Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

TikTok Perketat Pemeriksaan Usia di Eropa karena Tekanan Regulator

ilustrasi tiktok (unsplash.com/Solen Feyissa)
ilustrasi tiktok (unsplash.com/Solen Feyissa)
Intinya sih...
  • TikTok terapkan sistem pendeteksi usia berbasis perilaku pengguna di Eropa.
  • TikTok sesuaikan teknologi pendeteksi usia dengan aturan privasi ketat Uni Eropa.
  • Uji coba di Inggris hapus ribuan akun di bawah umur.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Platform media sosial TikTok akan mulai memperketat verifikasi usia pengguna di kawasan Eropa dalam beberapa pekan mendatang, menyusul meningkatnya tekanan dari otoritas regulasi terkait perlindungan anak di dunia digital. Kebijakan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghapus akun pengguna yang diduga dimiliki oleh anak di bawah usia 13 tahun, sesuai dengan ketentuan usia minimum yang diizinkan oleh layanan tersebut.

Langkah baru ini merupakan kelanjutan dari uji coba selama satu tahun di sejumlah negara Eropa, yang berfokus pada peningkatan akurasi pendeteksian akun di bawah umur. Otoritas Perlindungan Data dan Regulasi Digital Eropa menilai bahwa pengawasan usia pengguna menjadi elemen penting dalam penegakan aturan keselamatan anak serta perlindungan data pribadi di ruang digital.

1. TikTok terapkan sistem pendeteksi usia berbasis perilaku pengguna di Eropa

logo TikTok (pexels.com/Geri Tech)
logo TikTok (pexels.com/Geri Tech)

TikTok mengumumkan akan mulai menggulirkan teknologi baru untuk mendeteksi usia pengguna di seluruh Eropa dalam beberapa pekan ke depan, setelah sebelumnya menjalani uji coba selama satu tahun di kawasan tersebut. Sistem ini dikembangkan oleh ByteDance, perusahaan induk TikTok, sebagai respons terhadap tuntutan regulator Eropa agar platform lebih efektif dalam mengidentifikasi dan menangani akun milik anak di bawah 13 tahun.

Teknologi tersebut bekerja dengan menganalisis informasi profil, video yang diunggah, serta pola perilaku pengguna untuk memperkirakan apakah suatu akun mungkin dimiliki oleh anak di bawah umur. TikTok menegaskan bahwa akun yang terdeteksi oleh sistem tidak akan langsung diblokir, melainkan akan ditinjau terlebih dahulu oleh tim moderator khusus yang telah dilatih untuk menangani kasus terkait verifikasi usia.

Menurut perusahaan, sistem pendeteksi baru ini telah meningkatkan efektivitas penegakan kebijakan usia minimum selama masa uji coba di beberapa negara Eropa.

“Sistem ini menganalisis informasi profil, video yang diunggah, serta pola perilaku pengguna untuk memperkirakan apakah sebuah akun mungkin dimiliki oleh anak di bawah umur,” menurut pernyataan TikTok, dikutip Business Times.​

2. TikTok sesuaikan teknologi pendeteksi usia dengan aturan privasi ketat Uni Eropa

Ilustrasi logo TikTok (unsplash.com/Jonathan Kemper)
Ilustrasi logo TikTok (unsplash.com/Jonathan Kemper)

Peluncuran teknologi pendeteksi usia baru TikTok dilakukan di tengah meningkatnya pengawasan otoritas Eropa terhadap cara platform media sosial memverifikasi usia pengguna, terutama di bawah kerangka aturan perlindungan data yang semakin ketat. Regulator menilai bahwa banyak metode verifikasi usia yang ada saat ini kurang efektif atau justru terlalu mengganggu privasi pengguna.

TikTok menegaskan bahwa sistem pendeteksi usia miliknya dibangun agar sejalan dengan regulasi Uni Eropa, termasuk aturan perlindungan data. Dalam pengembangannya, perusahaan bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Data Irlandia, yang merupakan regulator privasi utama TikTok di kawasan Uni Eropa.

Meski begitu, TikTok mengakui bahwa teknologi verifikasi usia belum sepenuhnya sempurna, terutama dalam menjaga keseimbangan antara akurasi deteksi dan perlindungan privasi pengguna.

“Belum ada cara yang disepakati secara global untuk memastikan usia pengguna tanpa mengorbankan privasi mereka,” menurut pernyataan TikTok, dikutip Channel News Asia.

3. Uji coba di Inggris hapus ribuan akun di bawah umur

ilustrasi logo TikTok di smartphone
ilustrasi logo TikTok di smartphone (pixabay.com/Antonbe)

Dalam uji coba di Inggris, TikTok melaporkan bahwa teknologi pendeteksi usia barunya berhasil menghapus ribuan akun tambahan yang diketahui dimiliki oleh anak-anak di bawah usia 13 tahun. Perusahaan menyebut hasil ini sebagai bukti bahwa penegakan kebijakan usia minimum dapat ditingkatkan tanpa hanya bergantung pada data usia yang diisi sendiri oleh pengguna.

Untuk menangani kasus banding atas pemblokiran akun, TikTok menerapkan kombinasi metode verifikasi, termasuk teknologi estimasi usia wajah dari penyedia verifikasi Yoti, serta pemeriksaan kartu kredit dan identitas resmi. Teknologi Yoti juga digunakan oleh platform lain seperti Meta untuk verifikasi usia pengguna di layanan seperti Facebook dan Instagram.

Peningkatan sistem verifikasi usia di TikTok terjadi seiring dengan tren global pengetatan aturan media sosial bagi anak-anak. Pada tahun lalu, Australia menjadi negara pertama di dunia yang melarang anak di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial, sementara Parlemen Eropa tengah membahas pembatasan umur serupa, dan Denmark bahkan mengusulkan larangan akses untuk anak di bawah 15 tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Tampung Aspirasi dan Kritik, Polri Gelar Festival Komik Polisi

18 Jan 2026, 13:38 WIBNews