Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Libya Gandeng Perusahaan AS-Prancis Buat Genjot Produksi Minyak
ilustrasi tambang minyak (pixabay.com/anita_starzycka)

Intinya sih...

  • Libya hanya mampu memproduksi 340 ribu-400 ribu barel per hari

  • Libya juga menggandeng Chevron dan Mesir untuk menggenjot produksi minyak

  • Libya merupakan produsen minyak terbesar di benua Afrika

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Libya dilaporkan telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat (AS), ConocoPhillips, dan perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies, untuk menggenjot produksi minyak dalam negeri. Kerja sama ini sudah ditandatangani oleh Waha Oil Company dari Libya pada Sabtu (24/1/2026) dan akan berjalan selama 25 tahun.

“Perjanjian antara perusahaan minyak nasional Libya dan TotalEnergies dari Prancis dan ConocoPhillips yang berbasis di AS akan diubah. Perjanjian tersebut akan berlaku selama 25 tahun dan mencakup investasi yang melebihi 20 miliar dolar AS,” kata Perdana Menteri (PM) Libya, Abdulhamid Al-Dbeibah, dilansir Anadolu Agency.

Al-Dheibahmenambahkan, kerja sama ini bernilai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp335 triliun. Lewat kerja sama ini, ia berharap Libya bisa meningkatkan produksi minyak hingga 850 ribu barel per hari dengan pendapatan bersih sebesar 376 miliar dolar AS atau Rp6 ribu kuadriliun.

1. Libya sebelumnya hanya mampu memproduksi 340 ribu-400 ribu barel per hari

potret bendera Libya (unsplash.com/aboodi vesakaran)

Libya sendiri biasa hanya mampu menghasilkan produksi minyak sebesar 340 ribu hingga 400 ribu barel per hari. Produksi ini dibantu oleh Waha Oil Company yang merupakan perusahaan minyak milik pemerintah.

Dilansir CNBC, Waha Oil Company mengelola lima ladang minyak dan gas utama di Libya. Selain itu, mereka juga mengelola beberapa subladang penghasil minyak untuk menambah produksi dalam negeri.  

2. Libya juga menggandeng Chevron dan Mesir untuk menggenjot produksi minyak

potret logo Chevron (pexels.com/Meltem B.)

Libya juga sudah menggandeng Chevron dan Kementerian Perminyakan Mesir untuk meningkatkan produksi minyak. Selain untuk meningkatkan produksi minyak, langkah ini dilakukan karena Libya ingin mempererat kerja sama energi dengan negara-negara di dunia.

Menurut Abdulhamid Al-Dbeibah, Libya selama ini kurang menjalin relasi dengan negara-negara di dunia untuk mengembangkan industri minyak mereka. Ini membuat potensi sumber daya minyak di sana tidak dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, Al-Dheibah ingin bekerja sama dengan perusahaan minyak besar dunia untuk memanfaatkan potensi minyak yang dimiliki Libya.

3. Libya merupakan produsen minyak terbesar di benua Afrika

ilustrasi tambang minyak (unsplash.com/Maria Lupan)

Libya merupakan negara penghasil minyak terbesar di benua Afrika. Mereka dilaporkan punya cadangan minyak mentah yang siap diolah sebesar 48 miliar barel. Oleh karena itu, Libya juga memegang peran kunci dalam hal produksi minyak dunia.

Kendati begitu, produksi minyak di Libya mengalami beberapa hambatan sejak 2014. Hal ini karena Libya mengalami krisis politik setelah Presiden Muammar Gaddafi digulingkan. Saat itu, warga Libya terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu pendukung presiden dan kubu penentang presiden. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team