Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
LPG Bakal Diganti CNG, Warga Tak Perlu Beli Kompor Baru
ilustrasi menyalakan kompor (pexels.com/Teona Swift)
  • Pemerintah akan mengganti LPG dengan CNG menggunakan sistem plug and play, sehingga warga cukup menambah valve atau converter tanpa perlu membeli kompor baru.
  • Cadangan gas bumi nasional mencapai 55,85 TSCF dan penggunaan CNG diproyeksikan menghemat biaya energi hingga 30 persen serta memperkuat ketahanan energi nasional.
  • Produksi LPG domestik terus menurun sejak 2012, membuat impor dan beban subsidi meningkat, sehingga konversi ke CNG dianggap langkah mendesak untuk mengurangi ketergantungan impor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) akan dibuat praktis dengan sistem plug and play. Masyarakat hanya perlu menggunakan valve atau converter tambahan agar tetap bisa menggunakan kompor yang sudah ada.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman, menyatakan selain menjamin kemudahan teknis, pemerintah juga menempatkan faktor keselamatan sebagai aspek paling krusial dalam implementasi kebijakan substitusi energi itu.

"Poin yang paling penting yang harus disiapkan adalah aspek keselamatan. Yang kedua, dia menggunakan valve atau converter yang harus plug and play sehingga kompor tidak perlu diganti," kata Laode dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (15/5/2026).

1. Pemerintah rampungkan kesiapan infrastruktur sebelum diluncurkan

ilustrasi api di kompor (pexels.com/Mateusz Feliksik)

Ditjen Migas saat ini terus melakukan koordinasi dengan perusahaan distribusi gas dan asosiasi industri untuk memastikan kesiapan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Upaya itu dilakukan sebelum kebijakan resmi diluncurkan oleh Menteri ESDM.

“Dengan potensi cadangan yang besar dan pengembangan infrastruktur yang semakin luas, CNG dan LNG adalah solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan,” tutur Laode.

2. Cadangan gas melimpah dan biaya energi diklaim lebih hemat 30 persen

Pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN).

Rencana konversi LPG ke CNG didukung oleh posisi cadangan gas bumi nasional yang mencapai 55,85 TSCF per 1 Januari 2025. Pemerintah pun memproyeksikan alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri akan melampaui porsi ekspor pada 2026.

Saat ini, tahapan implementasi atau roadmap detailnya sedang disusun dan akan segera diumumkan oleh Menteri ESDM. Penggunaan gas bumi tersebut diperkirakan mampu menghemat biaya energi konsumen hingga 30 persen.

"Selain menguntungkan secara ekonomi bagi konsumen, penggunaan gas bumi juga akan memperkuat kedaulatan energi nasional karena sumber gasnya tersedia melimpah di wilayah Indonesia,” ujar Laode.

3. Produksi LPG terus turun dan beban impor semakin membengkak

LPG 3 Kg dipastikan aman di Bali selama libur panjang (Dok.IDN Times/istimewa)

Langkah pengalihan dari LPG ke CNG dinilai mendesak lantaran produksi LPG domestik terus menyusut sejak 2012, sementara konsumsi masyarakat terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Kondisi tersebut memicu pembengkakan beban subsidi dan pengeluaran devisa negara untuk impor LPG setiap tahunnya. Jika konversi ke sumber energi lain tidak segera dilakukan, ketergantungan terhadap impor LPG dipastikan akan terus bertambah.

“LPG kita sejak tahun 2012 turun terus. Dalam bertahun-tahun, dengan pertumbuhan penduduk, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain,” kata Laode.

Editorial Team