Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Indonesia Bisa Hemat Devisa Rp137 Triliun Usai Beralih dari LPG ke CNG

Indonesia Bisa Hemat Devisa Rp137 Triliun Usai Beralih dari LPG ke CNG
Pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN).
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pemerintah berencana mengonversi penggunaan LPG ke CNG yang diperkirakan bisa menghemat devisa negara hingga Rp130–137 triliun karena tidak perlu lagi impor LPG.
  • Kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor 75–80 persen, sementara sumber daya gas untuk produksi CNG tersedia di dalam negeri dengan cadangan baru di Kalimantan Timur.
  • Harga CNG disebut 30 persen lebih murah dibandingkan LPG karena bahan baku dan industrinya berasal dari dalam negeri sehingga biaya transportasi dan impor dapat ditekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dapat menghemat devisa negara hingga kisaran Rp130 triliun sampai Rp137 triliun.

Hal itu memungkinkan karena ketika pemerintah telah mengonversi Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke CNG, negara tidak perlu lagi mengimpor LPG.

"Dengan kita memakai CNG InsyaAllah kalau teknologinya udah ada, itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kita kurang lebih sekitar Rp130 triliun sampai Rp137 triliun," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).

1. Indonesia selama ini ketergantungan impor LPG

Kapal pengangkut LPG Pertamina
Kapal pengangkut LPG Pertamina. (dok. Pertamina)

Bahlil menjelaskan saat ini kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor dengan porsi mencapai 75 hingga 80 persen. Kebutuhan LPG tersebut terus meningkat setiap tahunnya, baik untuk industri maupun rumah tangga.

"Persoalannya sekarang adalah ketika gejolak politik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada tapi kan kita tergantung pada global," paparnya.

2. Potensi sumber daya gas dalam negeri

PGN Gagas menyalurkan 2.000-3.000 m3 gas bumi per bulan dengan mekanisme beyond pipeline yaitu Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN)
PGN Gagas menyalurkan 2.000-3.000 m3 gas bumi per bulan dengan mekanisme beyond pipeline yaitu Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN)

Bahlil memastikan seluruh komponen pembentuk CNG seperti C1 dan C2 tersedia di dalam negeri. Kondisi itu didukung oleh adanya penemuan cadangan gas baru sekitar 3.000 juta standar kaki kubik di wilayah Kalimantan Timur.

"Ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG," ujar Bahlil.

Selain itu, sumber-sumber gas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia memiliki kandungan yang dibutuhkan untuk menghasilkan CNG, sehingga proses distribusinya dinilai jauh lebih efisien.

3. Harga CNG diklaim bakal lebih murah dari LPG

Seorang warga sedang mengambil LPG.
Seorang warga sedang mengambil LPG. (Dok. Pertamina Patra Niaga)

Berdasarkan hasil kajian, harga CNG diklaim lebih murah, yakni 30 persen lebih terjangkau dibandingkan LPG. Bahlil memaparkan harga yang lebih murah disebabkan oleh ketersediaan gas dan industri yang berada di dalam negeri.

"Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover," kata Bahlil.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Related Articles

See More