potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengusulkan bantuan dana senilai 500 juta dolar AS (Rp8,66 triliun) untuk mencegah kebangkrutan Spirit Airlines. Usulan ini diajukan meski mendapat penolakan dari beberapa penasihat presiden dan sebagian besar anggota Partai Republik di Kongres. Namun, perundingan yang berlangsung hingga Jumat (1/5/2026), berakhir tanpa kesepakatan setelah para kreditur utama menolak rencana tersebut.
Salah satu kreditur terbesar yang menolak rencana penyelamatan ini adalah Ken Griffin's Citadel, sebuah hedge fund besar yang memiliki surat utang Spirit dalam jumlah besar. Pihak yang menolak di Kongres dan para kreditur menilai syarat bantuan yang membolehkan pemerintah memiliki hingga 90 persen ekuitas perusahaan hanya akan menurunkan nilai uang mereka jika Spirit pada akhirnya tetap gagal.
"Menyelamatkan Spirit dengan syarat seperti itu sama saja dengan membuang-buang uang," kata Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, dilansir South China Morning Post.
Presiden Trump, dalam jumpa pers membenarkan bahwa Gedung Putih telah memberikan usulan terakhir kepada Spirit dan para krediturnya.
"Kami sedang memantau Spirit dan kami akan membantu mereka jika kami bisa, tetapi kami harus mengutamakan kepentingan negara. Amerika harus didahulukan," kata Trump.
Duffy kemudian menjelaskan bahwa pemerintah telah berusaha mencari pembeli untuk Spirit, tetapi tidak ada maskapai lain yang berminat mengambil alih.
"Apa yang akan dibeli orang? Jika tidak ada orang lain yang mau membeli mereka, mengapa kami harus membelinya?" ujar Duffy.