Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Maskapai Spirit Airlines Bangkrut Imbas Konflik di Timur Tengah
Spirit Airlines (commons.m.wikimedia.org/Tomás Del Coro)
  • Spirit Airlines resmi menghentikan seluruh operasionalnya setelah gagal mencapai kesepakatan dana talangan, menjadi maskapai pertama yang tumbang akibat dampak ekonomi perang AS-Israel-Iran.
  • Kenaikan harga avtur hampir dua kali lipat sejak konflik di Timur Tengah membuat keuangan Spirit Airlines kolaps dan memicu krisis likuiditas yang tak tertolong.
  • Gagalnya rencana bantuan pemerintah senilai Rp8,66 triliun menyebabkan kebangkrutan ini berdampak pada 15–17 ribu pekerja serta pembatalan lebih dari 4.000 penerbangan domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Maskapai penerbangan bertarif rendah asal Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada Sabtu (2/5/2026). Keputusan ini diambil setelah dewan direksi perusahaan dan para kreditur utama tidak mencapai kesepakatan terkait rencana dana talangan dari pemerintah AS.

Penutupan ini menjadikan Spirit Airlines sebagai maskapai pertama di industri penerbangan yang berhenti beroperasi akibat dampak ekonomi dari perang antara AS, Israel, dan Iran. Perusahaan yang telah beroperasi selama 34 tahun ini mengumumkan penghentian operasional karena tidak mampu lagi menanggung biaya yang terus meningkat tajam.

1. Krisis likuiditas dan kenaikan harga avtur akibat perang

pesawat Spirit Airlines (pexels.com/john mckenna)

Faktor utama yang menyebabkan penutupan Spirit Airlines adalah kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) hingga hampir dua kali lipat sejak konflik terjadi pada akhir Februari 2026. Sebelum konflik, rencana keuangan Spirit Airlines memperkirakan harga avtur berada di kisaran 2,24 dolar AS (Rp38,83 ribu) per galon pada tahun 2026. Namun, gangguan jalur kapal energi di Selat Hormuz dan penutupan jalur oleh Angkatan Laut AS membuat harga naik tajam.

Pada akhir April 2026, harga avtur di pasar mencapai sekitar 4,51 dolar AS (Rp78,18 ribu) per galon. Perbedaan harga yang jauh ini membuat rencana keuangan perusahaan tidak berjalan dan menghabiskan likuiditas yang dibutuhkan perusahaan untuk keluar dari status kebangkrutan.

"Kenaikan harga bahan bakar yang cepat dan terus terjadi dalam beberapa minggu terakhir membuat kami tidak punya pilihan lain selain menghentikan operasional perusahaan," kata President dan CEO Spirit Airlines, Dave Davis, dilansir Indian Express.

2. Kegagalan rencana bantuan dana Rp8,66 triliun

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengusulkan bantuan dana senilai 500 juta dolar AS (Rp8,66 triliun) untuk mencegah kebangkrutan Spirit Airlines. Usulan ini diajukan meski mendapat penolakan dari beberapa penasihat presiden dan sebagian besar anggota Partai Republik di Kongres. Namun, perundingan yang berlangsung hingga Jumat (1/5/2026), berakhir tanpa kesepakatan setelah para kreditur utama menolak rencana tersebut.

Salah satu kreditur terbesar yang menolak rencana penyelamatan ini adalah Ken Griffin's Citadel, sebuah hedge fund besar yang memiliki surat utang Spirit dalam jumlah besar. Pihak yang menolak di Kongres dan para kreditur menilai syarat bantuan yang membolehkan pemerintah memiliki hingga 90 persen ekuitas perusahaan hanya akan menurunkan nilai uang mereka jika Spirit pada akhirnya tetap gagal.

"Menyelamatkan Spirit dengan syarat seperti itu sama saja dengan membuang-buang uang," kata Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, dilansir South China Morning Post.

Presiden Trump, dalam jumpa pers membenarkan bahwa Gedung Putih telah memberikan usulan terakhir kepada Spirit dan para krediturnya.

"Kami sedang memantau Spirit dan kami akan membantu mereka jika kami bisa, tetapi kami harus mengutamakan kepentingan negara. Amerika harus didahulukan," kata Trump.

Duffy kemudian menjelaskan bahwa pemerintah telah berusaha mencari pembeli untuk Spirit, tetapi tidak ada maskapai lain yang berminat mengambil alih.

"Apa yang akan dibeli orang? Jika tidak ada orang lain yang mau membeli mereka, mengapa kami harus membelinya?" ujar Duffy.

3. Dampak penutupan pada ribuan pekerja dan penumpang

pesawat Spirit Airlines (pexels.com/Mehmet Suat Gunerli)

Penutupan Spirit Airlines berdampak langsung pada hilangnya pekerjaan banyak orang. Perusahaan membenarkan bahwa penutupan ini akan menyebabkan hilangnya sekitar 15 ribu hingga 17 ribu pekerjaan, termasuk karyawan tetap dan pekerja kontrak.

Dampak penutupan juga langsung dirasakan oleh para penumpang. Spirit resmi membatalkan seluruh jadwal penerbangan dan meminta penumpang untuk tidak datang ke bandara. Berdasarkan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, Spirit memiliki lebih dari 4.119 jadwal penerbangan dalam negeri antara 1 hingga 15 Mei 2026, dengan total lebih dari 809 ribu kursi yang kini dibatalkan.

Menghadapi situasi ini, maskapai-maskapai besar AS seperti United, Delta, JetBlue, dan Southwest bertindak cepat dengan membatasi harga tiket dan menawarkan kursi gratis. Langkah ini dilakukan untuk membantu para penumpang dan karyawan Spirit yang telantar agar bisa tetap bepergian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team