Jakarta, IDN Times - Selama bertahun-tahun, petani kerap berada di posisi paling lemah dalam rantai pangan. Saat panen raya datang, harga gabah sering kali jatuh. Di titik itu, tengkulak biasanya menjadi pihak yang paling diuntungkan.
“Kalau di tengkulak itu, harga gabah (gabah kering panen atau GKP) cuma Rp5 ribu, Rp5.500 itu,” kata Bendahara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rejosari Makmur 2, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Muhammad Masfur kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).
Petani bisa ‘selamat’ dari harga pembelian rendah atau di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) saat negara hadir.
“Kalau di Bulog kan, seperti apa itu bisa Rp6.500. Bahkan kalau yang bagus, itu lebih gitu,” ucap Masfur.
Sejak 2022, hasil panen Gapoktan Rejosari Makmur 2 sebagian besar dibeli oleh Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog di Kabupaten Kendal. Masfur mengatakan, kehadiran SPP bagaikan penolong di mata anggota Gapoktan Rejosari Makmur 2.
“Adanya SPP di Kendal itu alhamdulillah sekali, sangat menolong, benar-benar menolong banget. Soalnya kalau di Kendal itu enggak ada rice mill besar gitu, baru SPP dari Bulog,” tutur Masfur.
Para anggota Gapoktan Rejosari Makmur 2 pun jadi memiliki ‘semangat 45’ sejak awal proses tanam sampai panen. Sebab, mereka telah memiliki pembeli tetap. Dengan demikian, para petani bisa memprediksi pendapatannya dari setiap musim panen.
“Manfaatnya kita itu dari pertama tanam sudah punya angan-angan. Angan-angannya apa? ‘Wah, ini pasti akan laku segini,’ gitu lho. Maksudnya, apapun keadaannya, dibeli Rp6.500. Kalau kita peliharanya bagus, bisa sampai Rp7 ribu, Rp7.500. Jadi patokan harganya sudah kelihatan. Dulu kan enggak ada,” ujar Masfur.
Kondisi itu pun berhasil membuat para tengkulak yang mau membeli gabah hasil panen Gapoktan Rejosari Makmur 2 tak lagi menawar dengan harga serendah-rendahnya.
“Pasti mau enggak mau harus berani (naikkan harga), sama (dengan Bulog) paling enggak. Bisa lebih tinggi juga,” ucap Masfur.
Para anggota Gapoktan tak mau menyimpan kebahagiaan itu sendirian. Mereka turut membantu petani lain dengan memperbolehkan hasil panennya dijual ke Bulog melalui Gapoktan Rejosari Makmur 2, sehingga ikut mendapatkan harga yang adil.
“Ada banyak petani-petani itu. Paling kita itu kelompok sendiri disisakan Rp50 atau Rp100, gitu lho,” kata Masfur.
