Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Barang Inferior yang Malah Tak Laku Ketika Orang Banyak Uang
ilustrasi masyarakat (unsplash.com/Markus Winkler)
  • Barang inferior adalah produk yang permintaannya menurun saat pendapatan masyarakat naik, karena konsumen beralih ke barang dengan kualitas atau status sosial lebih tinggi.
  • Contoh barang inferior terlihat pada makanan murah, transportasi umum, dan merek ekonomis yang lebih diminati ketika kondisi ekonomi melemah atau pendapatan terbatas.
  • Terdapat perbedaan antara barang inferior, Giffen, normal, mewah, dan Veblen; masing-masing menunjukkan hubungan unik antara pendapatan, harga, serta perilaku konsumsi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Barang inferior merupakan istilah dalam ekonomi yang merujuk pada jenis barang yang permintaannya justru menurun ketika pendapatan masyarakat meningkat. Sebaliknya, dilansir Investopedia, barang ini lebih banyak dikonsumsi saat kondisi ekonomi atau pendapatan sedang terbatas, karena konsumen cenderung mencari alternatif yang lebih terjangkau.

Dalam teori ekonomi, barang inferior menunjukkan hubungan terbalik antara pendapatan dan permintaan. Ketika pendapatan naik atau kondisi ekonomi membaik, konsumen biasanya mulai beralih ke produk lain yang dinilai lebih berkualitas atau lebih sesuai dengan preferensi mereka.

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh faktor kenyamanan, kualitas, hingga persepsi status sosial. Barang inferior umumnya berkebalikan dengan barang normal, yakni barang yang permintaannya meningkat seiring naiknya pendapatan riil masyarakat.

Sebaliknya, ketika pendapatan turun atau ekonomi melemah, konsumsi barang inferior cenderung meningkat karena dianggap lebih hemat dibandingkan alternatif lainnya.

1. Contoh barang inferior

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Makanan:

Salah satu contoh paling mudah ditemukan adalah pada kategori makanan. Meski makanan merupakan kebutuhan dasar, pilihan konsumsinya bisa berubah sesuai kondisi ekonomi.

Saat pendapatan terbatas, konsumen cenderung memilih makanan yang lebih murah seperti makanan kaleng atau makanan beku dibandingkan menu yang lebih mahal seperti steak.

Pola konsumsi juga ikut bergeser. Makan di luar, terutama di restoran dengan harga tinggi, biasanya dikurangi ketika kondisi keuangan menurun. Sebagai gantinya, memasak di rumah menjadi pilihan yang lebih ekonomis.

Transportasi:

Perubahan pendapatan juga terlihat dalam pilihan transportasi. Ketika pendapatan masih rendah, transportasi umum menjadi pilihan utama. Namun, saat pendapatan meningkat, sebagian orang beralih ke kendaraan pribadi atau layanan transportasi yang lebih nyaman.

Perbedaan juga terlihat dalam pilihan kendaraan. Mobil bekas atau model tertentu bisa dianggap sebagai pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan mobil baru kelas premium.

Dalam sektor perjalanan, kondisi serupa juga terjadi. Akomodasi sederhana seperti motel atau hotel dekat bandara sering menjadi pilihan saat anggaran terbatas, sementara hotel berbintang atau butik lebih dipilih ketika pendapatan meningkat. Hal yang sama juga berlaku pada pilihan kelas penerbangan dan hiburan.

Merek:

Perbedaan pendapatan juga memengaruhi pilihan merek. Produk seperti kopi dari jaringan restoran cepat saji dapat dipilih sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan kopi dari kedai premium.

Ketika pendapatan meningkat, sebagian konsumen beralih ke merek yang lebih mahal karena dianggap memiliki kualitas atau pengalaman yang berbeda.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk kebutuhan harian seperti roti, susu, telur, atau sereal bermerek toko. Produk ini sering menjadi pilihan saat anggaran terbatas, sebelum konsumen beralih ke merek yang lebih dikenal ketika pendapatan meningkat.

2. Barang inferior dan perilaku konsumen

ilustrasi memilih produk rendah sodium saat belanja (pexels.com/Helena Lopes)

Perubahan permintaan barang inferior sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan perilaku konsumen. Biasanya, barang ini lebih banyak dikonsumsi oleh kelompok berpendapatan rendah atau saat terjadi perlambatan ekonomi.

Dalam situasi tersebut, konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan memilih produk yang lebih murah.

Namun, tidak semua konsumen mengubah pola belanjanya ketika pendapatan meningkat. Ada juga yang tetap memilih barang yang sama karena alasan preferensi pribadi, harga yang dianggap lebih masuk akal, atau kepuasan terhadap produk tersebut.

Selain itu, karakter barang inferior juga bisa berbeda di tiap negara. Suatu produk yang dianggap barang inferior di satu negara bisa saja menjadi barang normal di negara lain, tergantung tingkat pendapatan dan kebiasaan konsumen.

3 Jenis barang lainnya

ilustrasi belanja online (pexels.com/Atlantic Ambience)

Barang Giffen:

Barang Giffen merupakan jenis langka dari barang inferior yang permintaannya justru meningkat saat harga naik. Umumnya, barang ini tidak memiliki banyak substitusi dan sering berupa kebutuhan pokok di kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

Dalam kondisi tertentu, konsumen tetap membelinya meskipun harga naik karena tidak memiliki pilihan lain yang lebih terjangkau.

Barang Normal:

Barang normal adalah kebalikan dari barang inferior. Permintaannya akan meningkat seiring naiknya pendapatan masyarakat. Barang ini mencakup berbagai kebutuhan sehari-hari yang kualitas atau pilihannya meningkat ketika daya beli bertambah.

Barang Mewah (Luxury Goods):

Barang mewah bukan termasuk kebutuhan dasar. Konsumsinya sangat bergantung pada tingkat pendapatan, karena hanya dapat dijangkau ketika seseorang memiliki kemampuan finansial lebih tinggi.

Produk dalam kategori ini biasanya berkaitan dengan gaya hidup, seperti barang desainer, layanan premium, hingga kendaraan kelas atas.

Barang Veblen:

Barang Veblen adalah jenis barang yang permintaannya bisa meningkat seiring kenaikan harga. Hal ini berkaitan dengan persepsi nilai dan prestise yang melekat pada produk tersebut, terutama pada kategori barang mewah atau eksklusif.

Editorial Team