Purbaya Nilai Dampak Pelemahan Rupiah ke Inflasi Impor Tak Signifikan

- Purbaya menjelaskan pelemahan rupiah tidak otomatis memicu inflasi impor karena dampaknya bisa tertunda atau bahkan mereda tergantung kondisi ekonomi.
- Ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski dolar AS menembus Rp17.600, dengan APBN dan sektor swasta berperan menjaga pertumbuhan.
- Purbaya mengimbau masyarakat tetap tenang menghadapi tekanan global, menyoroti pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,6 persen sebagai bukti ketahanan domestik.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai masyarakat belum tentu memahami konsep imported inflation atau inflasi yang dipengaruhi faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan mengenai dampak pelemahan rupiah yang dinilai mulai dirasakan masyarakat.
"Emang mereka ngerti imported inflation? Berapa banyak mereka ngerti kalau mereka dijelasin? Imported inflation secara teoritis nggak terlalu signifikan kok," kata Purbaya kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
1. Imported inflation masih diperdebatkan dalam teori ekonomi

Purbaya mengatakan konsep imported inflation atau inflasi yang dipicu faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar, masih menjadi perdebatan dalam teori ekonomi.
Menurut dia, sejumlah buku ekonomi menyebut dampak imported inflation terlihat jelas terhadap kenaikan harga di dalam negeri. Namun, ada juga pandangan yang menilai pengaruhnya tidak selalu signifikan.
"Kalau kamu baca buku-buku ekonomi yang clear seperti itu, kadang-kadang jelas, kadang-kadang nggak, sebagian meragukan adanya imported inflation," ujar dia.
Dia menjelaskan, dampak pelemahan kurs terhadap inflasi juga tidak selalu terjadi secara langsung karena terdapat jeda waktu sebelum pengaruhnya terasa ke masyarakat. Dalam kondisi tertentu, efek tersebut bahkan bisa mereda atau hilang.
2. Purbaya sebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat

Di tengah tekanan dolar AS yang menembus level Rp17.600, Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap baik.
Dia mengatakan, kondisi fiskal pemerintah masih terjaga dan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan dijelaskan lebih lanjut dalam konferensi pers yang digelar pemerintah.
"Fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kita yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan. Nggak, kita bagus sekali. Dan mereka nggak ngerti apa yang kita kerjakan," paparnya.
Menurut Purbaya, strategi pemerintah saat ini tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga mendorong pergerakan sektor swasta agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Dia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,6 persen menunjukkan kontribusi konsumsi masyarakat dan investasi swasta masih kuat. Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi masih berasal dari konsumsi masyarakat, disusul investasi dan belanja pemerintah.
3. Purbaya minta masyarakat tidak khawatir

Purbaya meminta masyarakat tetap tenang menghadapi gejolak ekonomi global dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dia memastikan pemerintah terus menjaga kondisi ekonomi nasional agar pertumbuhan tetap terakselerasi.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,6 persen menunjukkan ekonomi domestik masih kuat di tengah tekanan global, berkat kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Pak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden," kata Purbaya.

















