Jakarta, IDN Times - Dalam dunia pemasaran, efek trickle-down dikenal sebagai pola penyebaran tren dan produk yang berawal dari konsumen kalangan berada, lalu meluas ke segmen masyarakat yang lebih luas. Pola ini disebut turut memengaruhi perilaku konsumen sekaligus dinamika pasar.
Dilansir Investopedia, efek trickle-down kerap disamakan dengan teori ekonomi bernama serupa, padahal keduanya memiliki konteks berbeda. Dalam praktik periklanan, efek trickle-down bekerja dengan asumsi kelas sosial yang lebih rendah cenderung terpengaruh oleh kelas yang lebih tinggi.
Kelompok bawah disebut berupaya meniru gaya dan preferensi kelas atas demi menunjukkan status sosial, sementara kelas atas terus mencari cara untuk membedakan diri dengan mengadopsi tren baru. Pola ini mendorong munculnya inovasi dan perubahan yang relatif cepat.
Efek tersebut biasanya muncul ketika sebuah iklan dianggap cukup menarik, baik karena keunikan, unsur humor, maupun nilai hiburannya, sehingga mendorong orang untuk membagikannya ke lingkar sosial terdekat. Jika berjalan efektif, pola ini dapat memberikan eksposur luas dalam waktu singkat, bahkan dengan biaya yang relatif rendah.
Media sosial menjadi sarana utama dalam penyebaran efek trickle-down. Iklan yang viral di platform digital kerap berujung pada liputan media arus utama, sehingga memperluas jangkauan pesan tanpa harus mengeluarkan biaya besar seperti iklan konvensional.
