Ibu-ibu petugas SPPG Semarang Timur menyiapkan masakan untuk pelaksanaan MBG. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Selain persoalan sasaran, IDEAS juga menyoroti tingginya biaya program akibat sentralisasi pelaksanaan MBG. Dalam APBN 2026, dari pagu anggaran MBG sebesar Rp267,4 triliun, hanya sekitar 63 persen yang benar-benar digunakan untuk makanan, sementara sisanya terserap dalam biaya operasional, sewa fasilitas, dan margin penyedia layanan.
Berbagai laporan lapangan bahkan menunjukkan nilai makanan yang diterima siswa seringkali di bawah Rp10 ribu per porsi, bahkan hanya sekitar Rp6.000. Dengan memperhitungkan potensi kebocoran dan rente, IDEAS memperkirakan anak-anak hanya menerima sekitar 50 persen dari nilai manfaat yang seharusnya.
Sentralisasi MBG juga dinilai melemahkan peran usaha kecil dan petani lokal karena rantai pasok didominasi oleh pemasok besar dan produk pangan ultraproses. Kondisi ini berisiko memperkuat korporatisasi pangan sekaligus mendorong pola konsumsi yang tidak sehat.
IDEAS merekomendasikan dua langkah reformasi utama, yaitu mengubah MBG menjadi program bertarget geografis dan mendesentralisasikan pelaksanaannya ke sekolah, dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua di bawah pengawasan pemerintah daerah.
“Dengan desentralisasi, MBG tidak hanya lebih efisien dan minim rente, tetapi juga bisa menjadi sarana pendidikan pangan, pemberdayaan petani lokal, dan penguatan ekonomi daerah,” ujar Tira.