Jakarta, IDN Times - Kementerian Keuangan mengungkapkan kebutuhan anggaran untuk program gentengisasi atau pergantian atap rumah berbahan seng menjadi genteng tidak akan mencapai Rp1 triliun.
"Anggaran gentengisasi enggak sampai Rp1 triliun," tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, usai acara Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Perhitungan anggaran program tersebut masih bersifat awal dan masih terus dilakukan perhitungan lebih lanjut.
"Itu hitungan (anggarannya) masih kasar sekali. Semua rumah diganti (genteng) dan yang diganti paling berapa puluh persen yang pakak seng," ucapnya.
Dengan cakupan (penerima) program yang diperkirakannya lebih terbatas, kebutuhan anggaran diyakini akan jauh lebih kecil dari estimasi yang beredar di masyarakat.
"Jadi yang diganti dari seng ke genteng, jumlahnya lebih kecil dari yang Anda dengar," tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, sebanyak 57,93 persen atau 40.913.287 rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan genteng sebagai atap rumah mereka. Artinya, mayoritas masyarakat Indonesia sudah menggunakan genteng sebagai pilihan utama.
Sementara itu, 31,48 persen atau 22.232.058 rumah tangga menggunakan seng sebagai atap. Seng merupakan material penutup atap yang terbuat dari lembaran logam. Bahan itu terkenal dengan bebannya yang ringan, tahan lama, dan harganya yang lebih terjangkau.
Terkait sumber pendanaan, pemerintah membuka peluang pemanfaatan cadangan anggaran, termasuk kemungkinan menggunakan pos dari Makanan Bergizi Gratis (MBG), meski opsi pendanaan lain juga masih dikaji.
“Bisa dari cadangan, bisa juga dari pos lain. Termasuk kemungkinan dari MBG,” tambahnya.
Program gentengisasi bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat dengan mengganti atap seng yang dinilai kurang layak dan berpotensi berdampak pada kesehatan, dengan genteng berbahan batuan yang lebih aman dan tahan lama.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menggagas ide penggunaan genteng berbahan dasar tanah untuk memperindah bangunan di setiap atap rumah. Menurut Prabowo, saat ini masih banyak ditemui atap rumah di berbagai daerah yang menggunakan seng. Seng dinilai tidak awet dan tidak ramah lingkungan.
"Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” kata Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul.
