Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menperin Bakal Genjot Ekspor Manufaktur
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita (IDN Times / Ridwan Aji Pitoko)
  • Menperin Agus Gumiwang berencana meningkatkan ekspor manufaktur Indonesia yang selama ini lebih banyak diserap pasar domestik, agar daya saing industri nasional bisa menyaingi negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand.
  • Meski PMI Manufaktur turun ke zona kontraksi 49,1 pada April 2026 akibat tekanan biaya dan permintaan melemah, kontribusi sektor ini tetap mendominasi sekitar 75–80 persen dari total ekspor nasional.
  • Agus menegaskan ketahanan sektor manufaktur terbukti sejak pandemi Covid-19, dan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar industri tetap stabil serta menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pandemi Covid-19

Sektor manufaktur Indonesia mampu bertahan meskipun tekanan pasar dan produksi sangat besar. Ketahanan ini menunjukkan struktur industri nasional cukup kuat menghadapi krisis global.

April 2026

PMI Manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi di angka 49,1, menjadi penurunan pertama dalam sembilan bulan terakhir akibat tekanan biaya dan permintaan yang melemah.

6 Mei 2026

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan akan meningkatkan ekspor manufaktur untuk menjaga daya saing. Ia menegaskan kontribusi sektor ini terhadap ekspor nasional tetap dominan meski menghadapi tekanan eksternal.

kini

Pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas industri. Agus meminta pelaku industri tetap optimistis karena kondisi saat ini dinilai sementara dan akan membaik seiring pemulihan ekonomi global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Menteri Perindustrian berencana meningkatkan ekspor sektor manufaktur Indonesia untuk memperkuat daya saing dan mengurangi ketergantungan pada pasar domestik.
  • Who?
    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama jajaran Kementerian Perindustrian serta pelaku industri manufaktur nasional.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta, dengan fokus kebijakan berlaku bagi sektor industri manufaktur di seluruh wilayah Indonesia.
  • When?
    Keterangan disampaikan pada Rabu, 6 Mei 2026, setelah data PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan penurunan ke zona kontraksi pada April 2026.
  • Why?
    Kebijakan ini dilakukan karena ekspor manufaktur Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga dan untuk menjaga stabilitas serta daya saing industri nasional.
  • How?
    Pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor, mendorong peningkatan produksi berorientasi ekspor, serta menyiapkan langkah antisipatif menghadapi tekanan biaya dan permintaan global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Agus, yang jadi menteri, mau kirim lebih banyak barang buatan Indonesia ke luar negeri. Sekarang banyak barang cuma dipakai di dalam negeri. Tapi katanya negara lain kayak Vietnam dan Thailand bisa jual banyak ke luar. Sekarang pabrik di Indonesia lagi susah karena permintaan turun dan bahan kurang, tapi Pak Agus bilang semua harus tetap semangat karena nanti bisa membaik lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tekanan global dan penurunan PMI, langkah pemerintah untuk mendorong ekspor manufaktur menunjukkan arah kebijakan yang proaktif dan berorientasi pada daya saing. Pernyataan Menperin tentang ketahanan industri, yang terbukti mampu bertahan saat pandemi, mencerminkan fondasi kuat sektor ini serta keyakinan bahwa kontraksi saat ini bersifat sementara dan dapat diatasi melalui koordinasi lintas sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita berupaya meningkatkan kontribusi ekspor manufaktur Indonesia, karena selama ini sektor ini mayoritas dinikmati oleh konsumis domestik dan hanya sedikit yang diekspor. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand yang mayoritas hasil industri industrinya terserap paling banyak untuk ekspor.

Kondisi ini yang dinilainya akan diubah dengan meningkatkan ekspor untuk menjaga daya saing sektor manufaktur. Apabila mengacu PMI Manufaktur Indonesia April 2026 turun ke zona kontraksi di angka 49,1, menandai penurunan pertama dalam sembilan bulan terakhir. Pelemahan ini dipicu tekanan biaya akibat tensi geopolitik Timur Tengah, penurunan permintaan, dan pengurangan tenaga kerja. Meski kontraksi, optimisme produksi ke depan tetap ada.

“Output manufaktur kita selama ini rata-rata hanya 20 persen yang diekspor, sementara 80 persen diserap di dalam negeri. Indonesia berbeda dengan negara-negara lain seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia,” kata Agus dikutip, Rabu (6/5/2026).

1. Kontribusi manufaktur ke ekspor nasional tetap dominan

Ilustrasi karyawan manufaktur dalam pabrik (unsplash/Remy Gieling)

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa kontribusi manufaktur terhadap ekspor nasional tetap sangat dominan. Data BPS menunjukkan sekitar 75–80 persen dari total ekspor nasional berasal dari produk industri pengolahan.

Selain itu, industri manufaktur Indonesia dikenal memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi berbagai krisis. Pengalaman masa lalu menjadi dasar optimisme tersebut. Menurut Agus, tekanan yang terjadi saat ini juga dirasakan oleh banyak negara, dan faktor eksternal menjadi salah satu penyebab utamanya.

“Kita saat ini berada dalam kondisi yang memang perlu mendapat perhatian. Dan kondisi ini bukan hanya dialami oleh Indonesia,” ujar Agus.

2. Industri manufaktur bisa bertahan saat covid-19

Robot Manufaktur (Sumber : https://www.freepik.com)

Ia mencontohkan bagaimana sektor manufaktur mampu bertahan selama pandemi Covid-19, meskipun saat itu tekanan pada pasar dan produksi sangat besar. Ketahanan ini menunjukkan bahwa struktur industri nasional cukup kuat untuk menghadapi gejolak ekonomi global.

“Sektor manufaktur sudah beberapa kali menghadapi krisis berskala besar, terakhir saat pandemi Covid-19, dan teman-teman di industri mampu menunjukkan resiliensinya,” ujarnya.

Saat ini, sektor manufaktur menghadapi tekanan dari berbagai sisi, termasuk menurunnya permintaan dan tantangan pasokan bahan baku. Agus menilai kondisi ini adalah bagian dari siklus wajar dalam ekonomi global. Meski begitu, pemerintah terus mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas industri. Koordinasi lintas sektor diperkuat, dan Kementerian Perindustrian fokus pada aspek riil sektor industri, sementara isu lain seperti nilai tukar ditangani kementerian terkait.

“Ada tekanan terhadap pasar dan bahan baku, dan ini dialami oleh semua negara,” jelas Agus.

3. Sektor manufaktur diyakininya memiliki daya tahan yang kuat

Pabrik manufaktur milik Berkshire (Precision Castparts) (dok. Precision Castparts)

Ia meminta pelaku industri tetap optimistis dan menjaga kinerja produksi. Menurutnya, kondisi saat ini bersifat sementara dan akan membaik seiring pemulihan ekonomi global. Dengan keyakinan tersebut, pemerintah berharap sektor manufaktur tetap menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Saya tetap percaya dengan ketahanan dan resiliensi sektor manufaktur,” tutup Agus.

Editorial Team