Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Outlook 2026.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Outlook 2026. (Youtube.com/Kemenko Perekonomian)

Intinya sih...

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membidik lonjakan kinerja ekspor tekstil hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun.

  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dengan reformasi struktural, belanja pemerintah, investasi swasta, dan penguatan sistem keuangan.

  • Pembentukan BUMN baru khusus sektor tekstil direncanakan untuk menghadapi risiko kebijakan tarif AS dengan dana sebesar 6 miliar dolar AS.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membidik lonjakan kinerja ekspor dalam satu dekade ke depan. Khusus sektor tekstil, nilai ekspor diproyeksikan bisa meningkat hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun apabila akses pasar internasional terbuka lebih luas.

“Dengan terbukanya akses pasar ke banyak negara untuk sektor tekstil, dalam 10 tahun ke depan ekspor diperkirakan bisa meningkat 10 kali lipat,” ujar Airlangga dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Ia menjelaskan, target tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Untuk mencapai sasaran itu, pemerintah menilai reformasi struktural harus terus dipercepat, mulai dari perbaikan iklim investasi, penyederhanaan birokrasi, hingga penguatan kepastian hukum.

Dari sisi penawaran, mesin pertumbuhan akan ditopang oleh belanja pemerintah dan investasi swasta.

“Mesin pertumbuhan, baik belanja pemerintah, investasi pelaku usaha, maupun peran Danantara, harus bergerak secara harmonis,” ujarnya.

Tak hanya itu, kebijakan pemerintah juga diarahkan selaras dengan penguatan sistem keuangan, baik perbankan maupun pasar keuangan yang lebih dalam. Sementara dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan ekspor tetap menjadi motor utama. Pembukaan pasar baru dinilai krusial untuk memperluas serapan produk domestik di pasar global.

Adapun pemerintah berencana membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil karena sektor ini dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS. Dana yang akan disiapkan oleh BPI Danantara untuk membangun BUMN baru khusus sektor tekstil sebesar 6 miliar dolar AS. Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, hingga peningkatan ekspor di sektor tekstil.

Editorial Team