Jakarta, IDN Times - Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengingatkan pemerintah agar waspada terhadap pelemahan rupiah meski kondisi saat ini belum separah krisis moneter 1998. Dia menilai, pengalaman masa lalu perlu dijadikan pelajaran agar tekanan terhadap ekonomi tidak semakin dalam.
Wijayanto menjelaskan, nilai tukar rupiah pada Mei 1998 sempat menyentuh Rp10 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), lalu melonjak menjadi Rp17 ribu pada Juni 1998. Menurut dia, jika disesuaikan dengan kondisi saat ini, nilai tersebut setara sekitar Rp33 ribu dan Rp56 ribu per dolar AS.
Indonesia memang masih jauh dari jurang krisis, namun ruang untuk keluar dari tekanan ekonomi dinilai semakin sempit. Menurutnya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan dengan baik sebelum situasi memburuk.
"Ada kesamaan antara apa yang kita lihat sekarang dan apa yang terjadi di masa lalu, yang kebetulan saya juga melihat, apa itu? Denial (penyangkalan) dan complacency (puas diri)," katanya dalam diskusi di Trinity Tower, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
