Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Terus Melemah, Ditutup ke Rp17.716,5 per Dolar AS

Rupiah Terus Melemah, Ditutup ke Rp17.716,5 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.716,5 per dolar AS pada 22 Mei 2026, turun 49,50 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Pelemahan rupiah dipicu defisit transaksi berjalan kuartal I 2026 yang melebar hingga 4 miliar dolar AS serta sikap hati-hati investor menunggu perkembangan geopolitik.
  • Dolar AS menguat karena data ekonomi seperti klaim pengangguran dan PMI manufaktur menunjukkan hasil lebih baik dari ekspektasi, menandakan ekonomi Amerika masih solid.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot melanjutkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026). Rupiah ditutup melemah pada level Rp17.716,5 per dolar AS pada Jumat sore.

Berdasarkan Bloomberg, rupiah ditutup melemah 49,50 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan kemarin.


1. Mayoritas mata uang di Asia melemah

Daftar mata uang di Asia bergerak melemah dengan rincian

  • Bath Thailand melemah 0,12 persen
  • Ringgit Malaysia melemah 0,09 persen
  • Pesso Filipina melemah 0,17 persen
  • Won Korea melemah 0,53 persen
  • Yen Jepang melemah 0,09 persen

2. Pelemahan rupiah disebabkan oleh data transaksi berjalan

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah ini disebabkan oleh data transaksi berjalan di kuartal I 2026 yang tercatat defisitnya melebar ke 4 miliar dolar AS.

"Investor wait and see sejalan dengan rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I. Di sisi lain, investor juga masih mengantisipasi respon Iran terhadap proposal AS yang terbaru," tegasnya.

3. Penguatan dolar AS dipicu oleh sejumlah indikator ekonomi AS

Ekonom, Josua Pardede, mengatakan, penguatan dolar AS dipicu oleh sejumlah indikator ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar, terutama dari sektor tenaga kerja dan manufaktur.

“Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu dan lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 210 ribu,” ujar Josua dalam riset hariannya, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih ketat. Selain itu, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS juga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8 dan menandakan sektor manufaktur AS tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Dengan adanya pandangan ekonomi AS masih tangguh sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Fed. Meski demikian, penguatan dollar AS sempat tertahan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.

“Pada akhir sesi, indeks dolar AS sedikit naik sebesar 0,17 persen menjadi 99,26,” kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More