Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Dampak penangkapan Maduro pada harga minyak sangat bergantung pada stabilitas politik Venezuela.

  • Produksi minyak Venezuela saat ini terlalu kecil untuk mengguncang pasar global secara signifikan.

  • Risiko geopolitik jangka pendek meningkat, tetapi pasar masih dibayangi kelebihan pasokan global.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026), langsung memicu perhatian pelaku pasar energi global. Aksi tersebut membuka kembali pertanyaan lama tentang masa depan cadangan minyak Venezuela yang merupakan salah satu terbesar di dunia, sekaligus potensi dampaknya terhadap harga minyak internasional.

Meski perdagangan kontrak minyak tidak berlangsung pada akhir pekan, pasar diperkirakan akan bereaksi saat dibuka kembali. Namun, sejumlah analis menilai bahwa efek jangka panjang terhadap harga minyak global sangat bergantung pada kondisi politik Venezuela pasca-Maduro dan stabilitas pemerintahan yang terbentuk setelahnya.

Apakah penangkapan Maduro langsung menaikkan harga minyak?

Kenaikan harga diperkirakan terbatas dan lebih bersifat jangka pendek.

Seberapa besar peran Venezuela di pasar minyak global saat ini?

Venezuela memproduksi kurang dari 1 persen pasokan minyak dunia.

Mengapa dampaknya ke konsumen AS kecil?

Impor minyak Venezuela ke AS sangat kecil dan hampir tidak berpengaruh ke harga bensin.

1. Pasar menanti arah baru Venezuela pasca-Maduro

Venezuela (unsplash.com/Leonardo Guillen)

Militer AS menangkap dan mengekstraksi Nicolás Maduro dari Caracas pada malam 2 Januari – dini hari 3 Januari 2026. Presiden AS Donald Trump menyebut Maduro sebagai seorang “outlaw dictator” dalam konferensi pers hari Sabtu. Saat pasar dibuka kembali pada Minggu (4/01/2026) pukul 18.00 waktu AS, pelaku pasar akan mencermati kemungkinan lonjakan harga minyak seiring meningkatnya spekulasi terkait pembukaan kembali pasar minyak Venezuela atau justru pengetatan yang lebih ekstrem.

Kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge León, mengatakan kepada Yahoo Finance bahwa dampak jangka panjangnya akan sangat bergantung pada lanskap politik Venezuela setelah Maduro lengser. Jika Venezuela mampu dengan cepat menstabilkan diri di bawah pemimpin yang lebih demokratis, seperti tokoh oposisi María Corina Machado, dan investasi asing kembali masuk, maka tambahan pasokan minyak berpotensi menekan harga global dalam beberapa tahun ke depan. León membandingkan skenario ini dengan kondisi Suriah setelah Bashar al-Assad kehilangan kekuasaan.

Sebaliknya, jika Venezuela justru mengalami ketidakstabilan berkepanjangan seperti Libya pasca-kejatuhan Muammar Gaddafi, di mana kekacauan politik menghambat masuknya modal asing, pasar minyak Venezuela kemungkinan akan semakin menyusut dan mendorong kenaikan harga global.

2. Risiko geopolitik dinilai masih menguat dalam jangka pendek

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump jumpa pers terkait serangan dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Sabtu (3/1/2026). (Youtube/The White House)

Dalam jangka pendek, León memperkirakan Venezuela akan lebih menyerupai Libya pasca-Gaddafi. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya basis pendukung gerakan Chavismo serta banyaknya tokoh oposisi yang berada di pengasingan dan berpotensi bersaing memperebutkan kekuasaan.

“Jika itu yang terjadi, maka kita kemungkinan akan melihat peningkatan risiko geopolitik yang sedikit bullish dan dampak yang sedikit bullish terhadap harga dalam jangka pendek,” ujarnya.

Presiden Trump juga menyatakan bahwa AS akan “menjalankan negara” sementara waktu hingga pemerintahan AS dapat merancang transisi yang “hanya” menuju pemimpin yang lebih demokratis. Pernyataan ini menambah ketidakpastian mengenai bentuk kepemimpinan Venezuela ke depan.

Meski demikian, León menegaskan bahwa dampaknya terhadap harga global kemungkinan tidak ekstrem. Saat ini, meskipun memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, Venezuela hanya berkontribusi kurang dari 1 persen pasokan minyak global.

3. Produksi minyak Venezuela masih terbatas

ilustrasi barel minyak (unsplash.com/Atik sulianami)

Tiga dekade lalu, Venezuela memproduksi lebih dari 3 juta barel minyak per hari. Sepuluh tahun lalu, angkanya masih berada di atas 2,5 juta barel per hari. Kini, produksi Venezuela turun menjadi kurang dari 1 juta barel per hari.

Keterbatasan ini membuat risiko gangguan pasokan global relatif kecil. León menilai bahwa bahkan jika Venezuela berhasil membuka kembali industrinya, dampak penurunan harga minyak juga akan terbatas dalam jangka pendek. Selain itu, infrastruktur minyak Venezuela telah lama mengalami kekurangan investasi sejak nasionalisasi industri di era Hugo Chávez. Negara tersebut juga kehilangan banyak tenaga ahli akibat brain drain ke wilayah yang lebih stabil.

Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela, itu pun dengan izin terbatas dari Departemen Keuangan AS. Dilansir Yahoo Finance, perusahaan tersebut menyatakan bahwa Chevron “tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami” dan “terus beroperasi dengan mematuhi seluruh hukum dan regulasi yang berlaku.”

Chevron mengekspor sekitar 120.000 hingga 150.000 barel minyak Venezuela per hari ke kilang AS, jumlah yang dinilai sangat kecil sehingga dampaknya hampir tidak terasa bagi konsumen AS.

“Saya rasa ini bukan soal beberapa bulan. Kita berbicara soal bertahun-tahun, sekitar tiga hingga lima tahun, sebelum Venezuela bisa mengekspor, katakanlah, 2 juta barel per hari,” ujar León.

4. Tekanan pasar global dan faktor di atas permukaan

Ilustrasi harga minyak turun (IDN Times/Arief Rahmat)

Penangkapan Maduro terjadi di tengah pelemahan pasar minyak global. Sepanjang 2025, harga Brent dan WTI masing-masing turun hampir 20 persen akibat kekhawatiran kelebihan pasokan global yang diperkirakan mencapai lebih dari 3 juta barel per hari.

OPEC+, termasuk Venezuela sebagai anggota pendiri, telah meningkatkan pasokan sejak April hingga Desember 2025. Arab Saudi berupaya merebut kembali pangsa pasar, sementara produsen shale AS mempertahankan produksi tinggi.

León menegaskan bahwa faktor utama dalam kasus Venezuela bukanlah cadangan minyaknya, melainkan kondisi politik dan stabilitas negara.

“Ini bukan masalah faktor di bawah tanah, melainkan faktor di atas permukaan,” ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team