Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Respons Warga Venezuela Usai Maduro Ditangkap Trump?

Presiden Venezuela, Nicolás Maduro
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Pendukung pemerintahan Maduro protes di ibu kota
  • Diaspora Venezuela rayakan penangkapan Maduro
  • Maduro dan istrinya hadapi tuduhan terkait narkoba dan kepemilikan senjata
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan Amerika Serikat (AS) menuai respons beragam dari rakyatnya. Banyak yang menyambut kabar itu dengan suka cita, tapi tak sedikit juga yang khawatir dan marah.

Dina, warga kota Caracas, mengatakan bahwa meskipun ia bersyukur AS telah menyingkirkan Maduro, situasi politik dalam negeri dinilai masih tetap tegang. Ia sendiri mengaku tidak terlalu menaruh kepercayaan pada Presiden AS, Donald Trump, yang mengklaim akan mewujudkan keadilan dan kebebasan bagi rakyat Venezuela

“Hari ini dia mengatakan sesuatu, besok dia mengubah pikirannya. Saya tidak terbiasa menganggap ucapannya dengan serius," ujar Dina kepada BBC.

Menurutnya, satu-satunya hal baik dari pernyataan Trump sejak penangkapan Maduro adalah rencana AS untuk berinvestasi di Venezuela, yang ia harapkan dapat membawa kondisi ekonomi yang lebih baik bagi negara tersebut.

1. Pendukung pemerintahan Maduro protes di ibu kota

Jorge, warga Venezuela lainnya yang tinggal di dekat Caracas, mengatakan bahwa dirinya turut bersyukur atas dukungan penuh dari pemerintah AS dalam menumbangkan Maduro. Namun, ia khawatir hari-hari mendatang tidak akan mudah.

“Sekarang setelah mereka membawa orang ini pergi, apa yang akan terjadi? Itu tidak menjamin apa pun bagi kami. Jadi ada sedikit ketidakpastian. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan," ungkap Jorge.

Sementara itu, para pendukung pemerintahan Maduro berunjuk rasa di jalan-jalan Caracas, menuntut AS membebaskan pemimpin mereka. Walikota Caracas, Carmen Meléndez, yang merupakan loyalis pemerintah, turut bergabung dalam demonstrasi tersebut. Meléndez mengatakan bahwa ia dan warga lainnya turun ke jalan untuk memprotes apa yang disebutnya sebagai penculikan Maduro.

2. Diaspora Venezuela rayakan penangkapan Maduro

Di sisi lain, diaspora Venezuela di berbagai belahan dunia dengan bebas merayakan penangkapan Maduro. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sebanyak 7,7 juta warga Venezuela atau 20 persen dari total populasi telah meninggalkan negara itu sejak 2014, setelah Maduro berkuasa. Arus migrasi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.

“Kami bebas. Kami semua bahagia karena kediktatoran telah tumbang dan kami kini memiliki negara yang merdeka,” kata Khaty Yanez, seorang perempuan Venezuela yang telah menghabiskan tujuh tahun terakhirnya di Santiago, Chile.

Sementara itu, warga Venezuela di Florida Selatan meneriakkan yel-yel “kebebasan” sambil membalut diri mereka dengan bendera Venezuela untuk merayakan penangkapan Maduro.

“Kami seperti semua orang—tentu saja ini campuran berbagai perasaan. Ada rasa takut. Ada kegembiraan. Sudah bertahun-tahun kami menantikan ini. Sesuatu memang harus terjadi di Venezuela. Kami semua membutuhkan kebebasan,” kata Alejandra Arrieta, yang pertama kali tiba di AS pada 1997.

3. Maduro dan istrinya hadapi tuduhan terkait narkoba dan kepemilikan senjata

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke Metropolitan Detention Center (MDC) di New York setelah ditangkap dalam operasi militer berskala besar AS di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) pagi. Pasangan tersebut menghadapi tuduhan penyelundupan narkoba dan kepemilikan senjata.

“Mereka akan segera menghadapi seluruh kekuatan hukum Amerika di tanah Amerika, di pengadilan Amerika,” tulis Jaksa Agung AS, Pam Bondi, di platform media sosial X.

Maduro sebelumnya dengan tegas membantah tuduhan bahwa dirinya adalah pemimpin kartel. Ia menuduh AS memanfaatkan perang melawan narkoba sebagai alasan untuk menggulingkannya sekaligus menguasai cadangan minyak Venezuela yang melimpah.

Maduro, yang berkuasa sejak 2013, juga kerap dituduh menindas kelompok oposisi dan membungkam suara kritis di Venezuela, termasuk melalui kekerasan. Oposisi dalam negeri dan pemerintah asing menilai ia meraih kemenangan secara tidak sah dalam pemilihan umum Venezuela 2024.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Rusia Tegaskan Solidaritas Bersama Venezuela

07 Jan 2026, 09:09 WIBNews