Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengangguran Finlandia Tembus 312 Ribu, Rekor Tertinggi di Uni Eropa
Bendera Finlandia (freepik.com/wirestock)
  • Tingkat pengangguran Finlandia melonjak ke 10,9 persen atau 312 ribu orang, menjadi yang tertinggi di Uni Eropa dan rekor terburuk sejak tahun 2000.
  • Krisis dipicu oleh melemahnya ekspor, putusnya hubungan dagang dengan Rusia, serta inflasi dan suku bunga tinggi yang menekan daya beli masyarakat.
  • Pemerintah Finlandia menerapkan kebijakan penghematan, memperketat tunjangan sosial, dan menaikkan iuran asuransi pengangguran untuk menekan defisit anggaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pasar tenaga kerja Finlandia mencatat rekor terburuk pada Selasa (24/3/2026). Data terbaru Statistics Finland menunjukkan tingkat pengangguran melonjak hingga 10,9 persen. Angka ini mencerminkan kelesuan ekonomi yang kini menyamai kondisi kritis saat gelombang pertama pandemi COVID-19.

Lonjakan drastis ini menempatkan Finlandia sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di Uni Eropa, melampaui negara-negara Mediterania yang biasanya mendominasi statistik tersebut. Ketidakmampuan pasar domestik menyerap tenaga kerja baru dipicu oleh ketidakpastian perdagangan global serta dampak penutupan perbatasan dengan Rusia yang masih berlanjut.

1. Pengangguran Finlandia capai rekor tertinggi sejak tahun 2000

bendera Finlandia (pexels.com/Baptiste Valthier)

Laporan Statistics Finland periode Februari 2026 mencatat jumlah pengangguran usia 15-74 tahun membengkak menjadi 312 ribu orang, meningkat 49 ribu jiwa dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini mendorong tingkat pengangguran utama ke angka 10,9 persen, sementara pengangguran berdasarkan tren penyesuaian musiman mencapai 10,5 persen, rekor tertinggi sejak November 2000.

Kepala Ekonom Kamar Dagang Pusat Finlandia, Jukka Appelqvist, menegaskan bahwa situasi saat ini adalah yang terburuk dalam dua dekade terakhir.

“Tingkat pengangguran saat ini berada di level yang lebih tinggi daripada waktu mana pun di tahun 2000-an. Kita harus ingat bahwa pengangguran bereaksi lambat terhadap pergeseran ekonomi, sehingga puncaknya sering kali terjadi justru saat siklus ekonomi mulai membaik," ujar Jukka Appelqvist, dilansir Daily Finland.

Krisis ini juga memukul sektor pemuda (usia 15-24 tahun) dengan tingkat pengangguran mencapai 24,6 persen. Hal ini mengindikasikan hambatan besar bagi lulusan baru untuk memasuki dunia kerja karena perusahaan cenderung membatasi ekspansi.

2. Putusnya hubungan dagang dengan Rusia dan krisis ekspor memperburuk resesi

potret bendera Rusia (pexels.com/Anton Klyuchnikov)

Memburuknya pasar tenaga kerja Finlandia berakar dari ekonomi berbasis ekspor yang tertekan. Penurunan permintaan dari pasar utama seperti Jerman, inflasi berkepanjangan akibat invasi Rusia ke Ukraina, hingga lonjakan suku bunga hipotek menjadi faktor utama. Selain itu, ketegangan militer di Timur Tengah turut menekan biaya energi industri.

Ekonom dari Federasi Perusahaan Finlandia, Roope Ohlsbom, menjelaskan dampak pelemahan ini terhadap daya beli masyarakat.

“Pasar tenaga kerja yang lemah membebani kepercayaan konsumen dan menjaga konsumsi swasta tetap rendah. Hal ini pada gilirannya memperlambat pemulihan ekonomi secara keseluruhan di negara ini,” kata Roope Ohlsbom, dilansir Daily Sabah.

Sektor konstruksi nasional juga mengalami stagnasi akibat tingginya suku bunga dan penumpukan pasokan properti. Terhentinya total hubungan dagang dengan Rusia meninggalkan celah ekonomi yang besar, memaksa perusahaan besar seperti Fiskars Group dan Lumo Homes melakukan restrukturisasi massal.

Petri Malinen, Kepala Ekonom Federasi Perusahaan Finlandia, menggambarkan situasi ini sebagai lingkaran setan.

“Siklus antara pengangguran dan kepercayaan yang rendah terus menghambat pemulihan ekonomi. Pengangguran yang tinggi melemahkan kepercayaan konsumen, mengurangi pertumbuhan pengeluaran pribadi, dan memperlambat pemulihan pasar kerja,” ungkap Petri Malinen, dilansir The Straits Times.

3. Pemerintah terapkan kebijakan penghematan dan perketat aturan tunjangan

ilustrasi Finlandia (unsplash.com/Tapio Haaja)

Pemerintah di bawah Perdana Menteri Petteri Orpo mengambil langkah tegas melalui kebijakan penghematan untuk menekan defisit anggaran. Mulai 1 Mei 2026, pemerintah akan mengganti subsidi pasar tenaga kerja lama dengan sistem tunjangan keamanan sosial yang lebih ketat. Sanksi bagi pencari kerja yang tidak memenuhi syarat administrasi juga akan diperberat mulai Maret 2026.

Henna Busk, Ekonom Senior Institut Riset Ekonomi Pellervo (PTT), menilai kebijakan internal saja tidak akan cukup.

“Sangat sulit memengaruhi situasi pasar tenaga kerja hanya dengan tindakan internal di Finlandia. Diperlukan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh peningkatan ekspor dan konsumsi rumah tangga secara masif,” kata Henna Busk.

Kondisi keuangan negara kian tertekan menyusul kerugian besar pada Dana Pekerjaan (Employment Fund) akibat tingginya klaim bantuan. Sebagai solusi, pemerintah menaikkan tarif iuran asuransi pengangguran sebesar 0,6 persen pada 2026. Selain itu, pekerja paruh waktu kini diwajibkan melamar minimal empat pekerjaan setiap bulan dan wajib mengaktifkan profil pencarian kerja digital mulai September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team