potret bendera Rusia (pexels.com/Anton Klyuchnikov)
Memburuknya pasar tenaga kerja Finlandia berakar dari ekonomi berbasis ekspor yang tertekan. Penurunan permintaan dari pasar utama seperti Jerman, inflasi berkepanjangan akibat invasi Rusia ke Ukraina, hingga lonjakan suku bunga hipotek menjadi faktor utama. Selain itu, ketegangan militer di Timur Tengah turut menekan biaya energi industri.
Ekonom dari Federasi Perusahaan Finlandia, Roope Ohlsbom, menjelaskan dampak pelemahan ini terhadap daya beli masyarakat.
“Pasar tenaga kerja yang lemah membebani kepercayaan konsumen dan menjaga konsumsi swasta tetap rendah. Hal ini pada gilirannya memperlambat pemulihan ekonomi secara keseluruhan di negara ini,” kata Roope Ohlsbom, dilansir Daily Sabah.
Sektor konstruksi nasional juga mengalami stagnasi akibat tingginya suku bunga dan penumpukan pasokan properti. Terhentinya total hubungan dagang dengan Rusia meninggalkan celah ekonomi yang besar, memaksa perusahaan besar seperti Fiskars Group dan Lumo Homes melakukan restrukturisasi massal.
Petri Malinen, Kepala Ekonom Federasi Perusahaan Finlandia, menggambarkan situasi ini sebagai lingkaran setan.
“Siklus antara pengangguran dan kepercayaan yang rendah terus menghambat pemulihan ekonomi. Pengangguran yang tinggi melemahkan kepercayaan konsumen, mengurangi pertumbuhan pengeluaran pribadi, dan memperlambat pemulihan pasar kerja,” ungkap Petri Malinen, dilansir The Straits Times.