Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Permintaan Diesel Naik, Ekspor Minyak AS Capai Rekor Tertinggi
Ilustrasi perusahaan minyak (unsplash.com/PilMo Kang)
  • Ekspor produk minyak AS mencapai rekor 8,2 juta barel per hari pada Mei 2026, naik 23 persen dari tahun sebelumnya, didorong lonjakan ekspor diesel dan bahan bakar jet.
  • Penutupan Selat Hormuz akibat konflik membuat pasokan minyak dunia terganggu, mendorong negara-negara Asia, Eropa, dan Afrika meningkatkan impor minyak dari AS.
  • Kenaikan ekspor menyebabkan harga bensin dan diesel di AS melonjak ke level tertinggi empat tahun terakhir, sementara persediaan bahan bakar distilat turun ke titik terendah sejak 2005.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ekspor produk minyak dari Amerika Serikat (AS) mencapai tingkat tertinggi sepanjang masa pada awal Mei 2026, yaitu sebanyak 8,2 juta barel per hari. Peningkatan ekspor ini menjadikan AS sebagai salah satu pemasok energi utama di dunia saat ini.

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (6/5/2026) mencatat bahwa pengiriman bahan bakar olahan, seperti bensin, diesel, dan bahan bakar jet, naik lebih dari 20 persen dibandingkan waktu yang sama pada tahun lalu. Kenaikan ekspor ini terjadi karena gangguan pasokan minyak dunia akibat ditutupnya jalur laut Selat Hormuz.

1. Ekspor produk minyak AS naik mencapai rekor baru

Menurut laporan EIA, ekspor produk minyak AS mencapai 8,2 juta barel per hari. Angka ini naik 23 persen atau sekitar 1,5 juta barel per hari dibandingkan minggu yang sama pada tahun 2025. Jumlah ini melewati rekor tertinggi sebelumnya yang terjadi pada Agustus 2024.

Penyebab utama rekor ini adalah ekspor bahan bakar distilat, terutama diesel, yang mencapai 1,9 juta barel per hari. Jumlah ini melewati rekor pada awal masa perang Rusia dan Ukraina. Ekspor bahan bakar jet juga naik menjadi 427 ribu barel per hari, mendekati rekor tertinggi pada awal April 2026.

Ahli strategi komoditas di TD Securities, Ryan McKay, menjelaskan bahwa ekspor AS saat ini lebih banyak berupa produk olahan daripada minyak mentah.

"Hal ini wajar karena kekurangan produk olahan di pasar dunia saat ini jauh lebih parah daripada kekurangan minyak mentah," kata McKay, dilansir Financial Times.

2. Permintaan dunia naik karena Selat Hormuz ditutup

Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Januari 2026 karena perang antara AS, Israel, dan Iran telah menghentikan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Sebelum perang, 80 persen minyak yang melewati selat tersebut dikirim ke Asia. Kondisi ini membuat negara-negara di Asia, Eropa, dan Afrika membeli minyak dari AS untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kenaikan permintaan ini terlihat jelas di Pelabuhan Corpus Christi, Texas, yang menjadi tempat utama ekspor minyak AS. CEO Pelabuhan Corpus Christi, Kent Britton, menjelaskan keadaan di pelabuhan tersebut.

"Banyak sekali kapal tanker yang terus datang dan pergi tanpa henti," kata Britton, dilansir The Star.

Menurut Britton, ekspor minyak dari pelabuhannya naik menjadi sekitar 2,5 juta barel per hari sejak perang dimulai, dari sebelumnya 2,2 juta barel per hari pada tahun lalu. Jumlah kapal di Pelabuhan Corpus Christi pada Maret 2026 mencapai lebih dari 240 kapal, lebih banyak dari jumlah rata-rata bulanan yang biasanya hanya 200 kapal.

3. Harga bahan bakar naik dan persediaan turun di AS

Walaupun ekspor menguntungkan perusahaan energi AS, kenaikan ini mulai menimbulkan masalah di dalam negeri. Harga bensin di AS pada awal Mei 2026 mencapai rata-rata 4,54 dolar AS (Rp78,85 ribu) per galon, yang merupakan harga tertinggi dalam empat tahun terakhir. Selain itu, harga diesel juga naik menjadi 5,64 dolar AS (Rp97,96 ribu) per galon.

Spesialis komoditas di Mizuho Securities, Robert Yawger, mengatakan bahwa keadaan ini makin menyulitkan pemerintahan Presiden Donald Trump.

"Keadaan ini makin buruk bagi pemerintah. Jika harga bensin mencapai 5 dolar AS (Rp86,85 ribu), pemerintah mungkin harus melarang ekspor," kata Yawger.

Masalah lain juga disampaikan oleh penasihat senior energi di perusahaan Carlyle, Jeff Currie. Ia menyebutkan bahwa persediaan diesel AS saat ini berada di tingkat terendah dalam 20 tahun.

"Kekurangan bahan bakar tidak terjadi saat pasokan berhenti, tetapi terjadi saat persediaan sudah habis," kata Currie.

Data EIA menunjukkan bahwa persediaan bahan bakar distilat AS pada 1 Mei 2026 tersisa sebanyak 102,3 juta barel. Jumlah ini 11 persen di bawah rata-rata lima tahunan dan menjadi tingkat terendah sejak tahun 2005. Masalah persediaan ini diperkirakan akan makin besar saat memasuki musim liburan musim panas mendatang karena banyak orang yang akan menggunakan kendaraan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team