Walaupun ekspor menguntungkan perusahaan energi AS, kenaikan ini mulai menimbulkan masalah di dalam negeri. Harga bensin di AS pada awal Mei 2026 mencapai rata-rata 4,54 dolar AS (Rp78,85 ribu) per galon, yang merupakan harga tertinggi dalam empat tahun terakhir. Selain itu, harga diesel juga naik menjadi 5,64 dolar AS (Rp97,96 ribu) per galon.
Spesialis komoditas di Mizuho Securities, Robert Yawger, mengatakan bahwa keadaan ini makin menyulitkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
"Keadaan ini makin buruk bagi pemerintah. Jika harga bensin mencapai 5 dolar AS (Rp86,85 ribu), pemerintah mungkin harus melarang ekspor," kata Yawger.
Masalah lain juga disampaikan oleh penasihat senior energi di perusahaan Carlyle, Jeff Currie. Ia menyebutkan bahwa persediaan diesel AS saat ini berada di tingkat terendah dalam 20 tahun.
"Kekurangan bahan bakar tidak terjadi saat pasokan berhenti, tetapi terjadi saat persediaan sudah habis," kata Currie.
Data EIA menunjukkan bahwa persediaan bahan bakar distilat AS pada 1 Mei 2026 tersisa sebanyak 102,3 juta barel. Jumlah ini 11 persen di bawah rata-rata lima tahunan dan menjadi tingkat terendah sejak tahun 2005. Masalah persediaan ini diperkirakan akan makin besar saat memasuki musim liburan musim panas mendatang karena banyak orang yang akan menggunakan kendaraan.