Pembatalan hampir 800 penerbangan atau sekitar 80 persen dari total jadwal harian Lufthansa telah memicu kekacauan logistik di bandara tersibuk Jerman, khususnya di hub Frankfurt dan Munich. Aksi mogok ini tidak hanya melumpuhkan rute domestik dan Eropa, tetapi juga mengganggu jadwal penerbangan jarak jauh menuju pusat bisnis global seperti New York, Singapura, China, hingga São Paulo. Dampak signifikan tersebut mengakibatkan penumpukan penumpang serta keterlambatan pengiriman kargo udara di berbagai wilayah.
"Aksi industrial yang dilakukan secara simultan oleh para pilot adalah sebuah kebetulan, namun itu adalah hal yang kami sambut baik. Tujuan kami adalah untuk memberikan tekanan kepada manajemen, bukan untuk menyulitkan penumpang," kata Harry Jaeger, perwakilan serikat pekerja kru kabin UFO, dilansir VisaHQ.
Meski serikat pekerja mengklaim tidak berniat merugikan konsumen, kenyataan di lapangan menunjukkan ribuan orang terpaksa mencari alternatif transportasi akibat hilangnya konektivitas penerbangan.
Gangguan ini terjadi pada momen krusial saat Jerman sedang menjadi tuan rumah agenda internasional, termasuk pembukaan Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) dan persiapan Konferensi Keamanan Munich. Bandara Frankfurt melaporkan sekitar 450 jadwal keberangkatan harus dibatalkan, sementara di Munich tercatat ada 275 pembatalan yang secara keseluruhan berdampak pada 100 ribu pemegang tiket. Situasi ini menciptakan tekanan besar bagi citra Jerman dalam melayani delegasi tingkat tinggi dan tamu internasional yang hadir pada pekan tersebut.
Merespons besarnya dampak terhadap pelanggan, juru bicara Lufthansa, Marc Baron, menyampaikan permohonan maaf dan mengajak serikat pekerja untuk segera kembali ke meja perundingan.
"Pengumuman pemogokan ini dilakukan dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat tidak proporsional sehingga sangat memukul para penumpang. Kami menyerukan kepada serikat pekerja untuk segera melanjutkan pembicaraan karena solusi hanya bisa ditemukan lewat dialog," kata Baron, dilansir Livemint.
Krisis ini diperkirakan menyebabkan kerugian pendapatan bagi perusahaan hingga 27 juta euro (Rp539,5 miliar) hanya dalam satu hari, yang semakin membebani target profitabilitas tahunan maskapai.