Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengaku terpukul setelah menerima data terkait kondisi ekonomi masyarakat beberapa minggu, setelah dirinya menjabat sebagai presiden.
Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tujuh tahun terakhir tercatat sekitar 5 persen per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, ekonomi Indonesia disebut telah bertambah sekitar 35 persen dalam kurun waktu tujuh tahun.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, dalam rapat paripurna ke-19 masa persidangan V Tahun sidang 2025-2026 di DPR RI.
"Saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita. Ini mungkin menyakitkan bagi kita. Saya merasa setelah saya terima data-data ini beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya," kata Prabowo, Rabu (20/5/2026).
Bagaimana tidak, di saat Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi, jumlah masyarakat miskin justru meningkat dari 46,1 persen menjadi 49,5 persen atau naik lebih dari 3 persen.
Selain itu, kelas menengah juga disebut mengalami penurunan di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.
"Saudara-saudara, saya bertanya di hadapan majelis yang terhormat ini. Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?" ungkapnya.
Menurut Prabowo, pertumbuhan ekonomi sebesar 35 persen seharusnya tidak diikuti dengan penurunan kelas menengah dan peningkatan angka kemiskinan. Prabowo mengatakan jawaban atas kondisi tersebut harus didasarkan pada pendekatan ilmiah dan perhitungan matematis.
"Dan menurut saya, jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar—bukan kemungkinan, saya yakin—sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajektori (lintasan) yang tidak tepat," kata Prabowo.
