Jakarta, IDN Times - Dalam wawancara bersama jurnalis dan ekonom di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto mempersoalkan impor kopi dan cokelat meskipun Indonesia memiliki bahan baku terbaik.
Pernyataan Prabowo Subianto ini menyoroti isu strategis terkait impor kopi dan kakao di Indonesia, yang masih terjadi meskipun negeri ini dikenal sebagai produsen utama dunia.
Indonesia menghasilkan sekitar 600 ribu ton kakao dan 700–800 ribu ton kopi per tahun, menempatkannya sebagai pemain kunci di pasar global. Namun, industri dalam negeri tetap bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dengan kualitas dan volume konsisten.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi menyebut kondisi ini sebagai paradoks dalam struktur industri nasional.
"Persoalan utama bukan pada produksi, melainkan pada rantai pasok yang belum terintegrasi dan sistem logistik yang belum efisien. Produksi yang didominasi petani kecil menyebabkan pasokan tersebar dan kualitas tidak seragam, sehingga sulit memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar," kata Setijadi dalam pernyataan resminya, Senin (23/3/2026).
