ilustrasi produk skincare (pexels.com/Elena Druzhinina)
Kombinasi monitoring Instagram serta survei online mengungkap bahwa ada tiga produk yang menjadi kategori paling sering dipromosikan. Ketiga produk itu, yakni fesyen, kecantikan, dan kuliner.
Survei online mengungkapkan, responden menyebut ada kecenderungan jenis-jenis produk tertentu yang biasanya dipromosikan influencer. Sebanyak 81 persen responden menyebut produk kecantikan seperti skincare, body care, parfum, dan make up menjadi produk yang paling banyak dipromosikan.
Diikuti 73 persen responden yang menyebut produk fesyen, dan 71 persen responden yang menyebut produk kuliner. Ketiga jenis produk ini mendominasi top of mind responden saat ditanyai jenis produk apa yang paling banyak dipromosikan influencer.
Sementara, hasil monitoring Instagram mencatat produk fesyen menjadi kategori produk yang banyak dipromosikan, dengan 34 persen dari keseluruhan unggahan dengan promosi terbanyak terkait pakaian muslim (813 promosi).
Kedua, produk kuliner dengan 25 persen dengan unggahan terbanyak terkait produk makanan (516 promosi). Ketiga, produk kecantikan sebanyak 19 persen dengan unggahan terbanyak terkait produk skincare (394 promosi).
Produk/brand yang paling sering dipromosikan adalah Chante (produk fesyen milik Citra Kirana), Lu’miere (produk kuliner milik Ashanti dan keluarga), dan Onsfit (produk kesehatan milik Ruben Onsu).
Melihat hasil survei Jakpat dan Jangkara menyimpulkan bahwa penggunaan influencer yang mempromosikan produk via media sosial cukup efektif dalam mengenalkan sebuah produk ke masyarakat.
Ke depan, dengan dinamika pemasaran yang selalu berubah, peran influencer masih akan cukup dominan mengingat reputasi mereka sebagai salah satu dasar pembelian produk oleh masyarakat.
Di sisi lain, fenomena kemunculan brand milik para influencer juga ikut menambah kompetitor di industri. Oleh karena itu, bila ingin menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan produk, para brand-owner harus bisa memilih dengan baik influencer yang akan diajak kerja sama untuk promosi.
"Sebaiknya mempertimbangkan menggunakan influencer yang tidak berkecimpung di satu kotak industri yang sama," kata dia.