Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)
Dia menilai, kenaikan biaya produksi ini akan diteruskan ke harga barang, sehingga masyarakat merasakan langsung dampaknya. Dia menambahkan, kenaikan biaya produksi ini akan diteruskan ke harga barang, sehingga masyarakat merasakan langsung dampaknya.
Contohnya, harga plastik dan kemasan yang semakin mahal membuat makanan kemasan dan minuman ikut naik. Minyak goreng kemasan sudah mulai naik harganya, dan pedagang kecil seperti penjual gorengan harus menyesuaikan harga jual agar tetap untung.
Barang-barang lain yang menggunakan plastik atau bahan impor juga akan terdampak, sehingga biaya hidup masyarakat secara umum meningkat.
"Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi. Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang sudah mulai adalah plastik karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah. Akan semakin mahal harga plastik/kemasan ke depan," bebernya.
Jika harga minyak dunia stabil di 80 dolar AS per barel, tapi rupiah melemah dari Rp15.000 ke Rp16.000 per dolar AS. Artinya, biaya dalam rupiah naik dari Rp1.200.000 menjadi Rp1.280.000 per barel.