Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dipengaruhi gejolak global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong naiknya harga minyak dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Mata uang Garuda berhasil menguat pada penutupan perdagangan, Rabu (13/5/2026) pada level Rp17.475,5 per dolar AS. Berdasarkan Bloomberg, rupiah menguat hingga 53 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang negara berkembang sejak akhir Februari 2026.

“Pergerakan nilai tukar di berbagai negara sangat dipengaruhi dinamika global, terutama konflik Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia,” ujar Denny di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5 persen turut memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market. Pada akhir Februari lalu, yield obligasi AS tersebut masih berada di kisaran 4 persen.

“Termasuk juga kecenderungan penguatan indeks dolar AS,” katanya.

Denny menegaskan tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang lain seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, won Korea Selatan, hingga beberapa mata uang Amerika Latin juga mengalami pelemahan.

Meski demikian, ia mengakui terdapat faktor domestik yang turut mendorong peningkatan permintaan dolar AS.
“Ada faktor domestik seiring repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing untuk penyelenggaraan ibadah haji,” ungkapnya.

Meski begitu, BI optimistis stabilitas rupiah akan tetap terjaga seiring penguatan bauran kebijakan moneter dan fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih solid.