Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Dibuka Menguat Terbatas ke Rp17.352 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.352 per dolar AS, naik 35 poin atau 0,20 persen dibanding penutupan sebelumnya.
  • Ekonom Celios menilai intervensi Bank Indonesia di pasar valas tergolong mahal dan perlu dilakukan dengan perhitungan likuiditas yang hati-hati.
  • Lembaga pemeringkat internasional menyoroti defisit anggaran dan risiko gagal bayar utang sebagai faktor utama yang menghambat penguatan rupiah lebih lanjut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan rupiah di pasar spot dibuka menguat tipis pada Kamis (7/5/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.352 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan kemarin.

1. Rincian mata uang yang menguat

Hingga pukul 09.13 WIB, pergerakan mata uang di kawasan mayoritas menguat.

Daftar mata uang yang menguat terhadap dolar AS

Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen

Yuan China menguat 0,01 persen

Rupee India menguat 0,68 persen

Pesso Filipina menguat 0,55 persen

Dolar Taiwan menguat 0,13 persen

2. Biaya intervensi yang dikeluarkan BI mahal

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menekankan intervensi rupiah di Indonesia cenderung mahal. Langkah Intervensi dilakukan di pasar offshore NDF, spot, dan DNDF domestik, serta memperluas operasi moneter valas.

“Pertanyaannya sekarang adalah, berapa besar likuiditas BI yang tersedia untuk melakukan intervensi? Karena intervensi yang mahal harus dilakukan dengan perhitungan yang sangat hati-hati,” ujarnya

3.Sulit rupiah kembali ke level Rp15.000 per dolar AS

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional memberi sinyal masalah utama justru ada di fiskal. Defisit anggaran yang melebar dan risiko gagal bayar utang membuat investor enggan menanamkan modal ke Indonesia.

"Artinya investor memandang ada risiko gagal bayar hutang, defisit anggaran membengkak, yang pada akhirnya investor memutuskan tidak masuk ke Indonesia. Jadi faktor fiskal ini yang jadi masalah," ungkapnya.

Jika kondisi ini tidak cepat diperbaiki, potensi government shutdown bisa menjadi ancaman nyata. Huda menilai, sulit membayangkan rupiah menguat ke Rp16.500, apalagi Rp15.000 per dolar AS.

Topics

Editorial Team