Rupiah Melemah, BI Hadapi Biaya Tinggi untuk Stabilkan Nilai Tukar

- Rupiah ditutup di kisaran Rp17.387 per dolar AS, sementara BI menghadapi biaya tinggi untuk intervensi di pasar valas guna menjaga stabilitas nilai tukar.
- Ekonom menilai pelemahan rupiah dipicu masalah fiskal seperti defisit anggaran dan risiko gagal bayar, yang membuat investor enggan menanamkan modal ke Indonesia.
- Kombinasi faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan data ekonomi AS yang kuat memperkuat dolar, memicu outflow modal, serta menambah tekanan pada rupiah.
Jakarta, IDN Times – Ekonom menyoroti efektivitas intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan Rupiah. Hingga penutupan perdagangan hari ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp17.380 per dolar AS, hanya menguat tipis dibandingkan kemarin yang sempat melemah hingga Rp17.400 per dolar AS.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menekankan intervensi rupiah di Indonesia cenderung mahal. Langkah Intervensi dilakukan di pasar offshore NDF, spot, dan DNDF domestik, serta memperluas operasi moneter valas.
“Pertanyaannya sekarang adalah, berapa besar likuiditas BI yang tersedia untuk melakukan intervensi? Karena intervensi yang mahal harus dilakukan dengan perhitungan yang sangat hati-hati,” ujarnya.
Bila mengacu data ergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan, Rabu (6/5/2026) ke level Rp17.387 per dolar AS per dolar AS. Rupiah tercatat menguat 36,50 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Sulit rupiah kembali ke level Rp15.000 per dolar AS

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional memberi sinyal masalah utama justru ada di fiskal. Defisit anggaran yang melebar dan risiko gagal bayar utang membuat investor enggan menanamkan modal ke Indonesia.
"Artinya investor memandang ada risiko gagal bayar hutang, defisit anggaran membengkak, yang pada akhirnya investor memutuskan tidak masuk ke Indonesia. Jadi faktor fiskal ini yang jadi masalah," ungkapnya.
Jika kondisi ini tidak cepat diperbaiki, potensi government shutdown bisa menjadi ancaman nyata. Huda menilai, sulit membayangkan rupiah menguat ke Rp16.500, apalagi Rp15.000 per dolar AS.
2. Pelemahan rupiah juga pengaruhi sektor rill untuk melakukan ekspansi

Huda menjelaskan pelemahan rupiah bukan hanya soal angka di layar, tetapi juga memengaruhi sektor riil. Nailul Huda menyoroti konsekuensi bagi pengusaha yang mengandalkan impor. Barang bahan baku dan penolong menjadi lebih mahal, mendorong imported inflation.
"Kenaikan biaya ini sulit diteruskan ke konsumen karena daya beli masih terbatas, sehingga ekspansi usaha pun ikut terhambat," tegasnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada intervensi moneter, tetapi juga pada pengelolaan fiskal yang sehat. Tanpa perbaikan anggaran dan sinyal positif bagi investor, tekanan terhadap Rupiah diperkirakan akan berlanjut, sementara biaya intervensi BI tetap tinggi.
3. Kombinasi eksternal pengaruhi pergerakan rupiah

Sebelumnya, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen pasar global kembali memanas setelah Iran menyerang pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA), mendorong harga minyak Brent sempat naik hampir 6 persen ke 114 dolar AS per barel.
"Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran investor, berpotensi menekan risk appetite, memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar negara berkembang, serta memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah dan Surat Berharga Negara (SBN)," ucapnya.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat yang solid juga menambah tekanan pada mata uang Asia. Factory orders AS untuk Maret 2026 naik 1,5 persen secara bulanan atau (month to month), jauh di atas ekspektasi, sementara durable goods kembali tumbuh 0,8 persen. Data ini memperkuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury, yang secara otomatis menekan Rupiah serta mata uang kawasan lainnya.
Menurut Asmo kombinasi tekanan geopolitik dan data ekonomi AS yang kuat membuat sentimen investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk pasar obligasi dan mata uang Asia. Rupiah pun harus menghadapi tekanan tambahan, di tengah potensi outflow modal dari emerging markets.










![[QUIZ] Cari Tahu di Umur Berapa Kamu akan Mencapai Financial Freedom](https://image.idntimes.com/post/20250809/pexels-pavel-danilyuk-7654621_fcdf0e58-11fe-4e36-b4ca-ee76f6e09991.jpg)




![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Cek Kamu akan Terlahir Jadi CEO atau Karyawan Biasa](https://image.idntimes.com/post/20250411/1000080289-5b24f5a14d3cd8dcd6ed21352b3d81b1-8e79354d356775a53c1f354e2534f81e.jpg)


