Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi dolar (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi dolar (pexels.com/Pixabay)

Intinya sih...

  • Mata uang Asia bergerak variatif: Bath Thailand menguat 0,23%, Ringgit Malaysia melemah 0,25%, Yuan China menguat 0,03%, Rupee India melemah 0,20%, Pesso Filipina melemah 0,11%, Won Korea melemah 0,43%, Dolar Taiwan melemah 0,10%

  • Dolar AS berhasil menguat: Kondisi perekonomian AS membaik dengan data tenaga kerja yang pulih. Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat setelah data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan.

  • Sentimen dalam negeri mendorong pelemahan rupiah: Prospek suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Jumat (9/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.819 per dolar AS per dolar AS.

Rupiah tercatat melemah 21 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Rincian mata uang di kawasan Asia bergerak variatif

Mata uang di Asia bergerak variatif, dengan ricnian:

  • Bath Thailand menguat 0,23 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,25 persen

  • Yuan China menguat 0,03 persen

  • Rupee India melemah 0,20 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,11 persen

  • Won Korea melemah 0,43 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,10 persen

2. Alasan dolar AS berhasil menguat seharian

Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, penguatan dolar AS hari ini didorong kondisi perekonomian Negeri Paman Sam yang membaik, dengan data-data tenaga kerja yang pulih.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yg kembali menguat setelah data-data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan,” ujar Lukman kepada IDN Times.

3. Sentimen dalam negeri yang mendorong pelemahan rupiah

Di dalam negeri, dia melihat adanya sentimen terhadap prospek suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), yang makin mendorong pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.

“Sentimen domestik seperti prospek suku bunga BI, defisit anggaran masih akan terus membebani,” tutur Lukman.

Editorial Team