Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, kenaikan harga barang-barang di AS usai konflik Timur Tengah akan memicu lonjakan inflasi pada negara tersebut.
Sikap Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) pun menjadi sorotan. Namun, menurut Ibrahim, pergerakan nilai tukar dolar AS dipengaruhi sinyal dari The Fed yang kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR).
“Bank Sentral AS dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan minggu ini, dan kemungkinan akan memberikan lebih banyak petunjuk tentang kebijakan moneter dan prospek inflasi dalam menghadapi gangguan dari perang Iran. The Fed juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu,” ujar Ibrahim.