Jakarta, IDN Times -Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada level Rp18.132 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka melemah 96 poin atau 0,53 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, namun rupiah melemah paling dalam, rinciannya:
Pesso Filipina melemah 0,20 persen
Taiwan Dolar AS melemah 0,13 persen
Bath Thailand melemah 0,08 persen
Yen Jepang melemah 0,07 persen
Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen
Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut di pasar global.
Penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan pasar. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung dolar dan menekan rupiah," ujar Lukman, kepada IDN Times, Senin (8/6/2026).
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000-Rp18.100 per dolar AS.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Lukman menilai belum terdapat sentimen domestik yang cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah.
Oleh karena itu, ia menyarankan Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah antisipatif melalui rapat darurat guna merespons tekanan terhadap nilai tukar.
"Belum ada sentimen domestik yang mendukung penguatan rupiah. BI harus segera melakukan pertemuan darurat untuk menaikkan suku bunga," katanya.
Menurut Lukman, kenaikan suku bunga acuan yang diperlukan berada di kisaran 50 basis poin (bps) hingga 100 bps untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga kepercayaan pasar terhadap aset keuangan domestik.
Langkah tersebut, lanjutnya, diperlukan agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.