Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai menilai pelemahan rupiah tidak hanya menekan sektor keuangan, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat. Terlebih rupiah sempat menembus level terendah dalam sejarah di level Rp17.613 per dolar AS kemarin.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, terutama sektor tekstil, makanan dan minuman, kimia, serta elektronik. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat karena harga bahan baku impor menjadi lebih mahal.
Namun, di sisi lain, pelaku usaha juga tidak leluasa menaikkan harga jual lantaran daya beli masyarakat sedang melemah. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan mencari jalan tengah untuk menjaga penjualan.
"Ketika kurs melemah, biaya produksi naik, tetapi mereka juga tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena daya beli masyarakat sedang lemah. Akibatnya banyak perusahaan memilih jalan tengah seperti mengecilkan ukuran produk atau menurunkan spesifikasi kualitas. Fenomena shrinkflation ini sebenarnya sudah mulai terlihat di banyak produk konsumsi," ungkap Yusuf kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).
