Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Siang Ini Drop ke Rp17.533 per Dolar AS Jelang Rilis MSCI
ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Robert Lens)
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.533 per dolar AS, turun 119 poin atau 0,68 persen akibat kombinasi sentimen global dan domestik.
  • Pelemahan rupiah sejalan dengan depresiasi mata uang regional lain, dipicu harga minyak dunia yang masih tinggi dan menekan nilai tukar.
  • Investor bersikap hati-hati jelang pengumuman rebalancing MSCI, sementara Bank Indonesia dinilai masih punya ruang intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga pukul 13.48 WIB kembali mencatatkan level terlemahnya di Rp17.533 per dolar AS. Pergerakan rupiah hingga siang ini tercatat sudah melemah 119 poin atau 0,68 persen.

"Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang membayangi pasar keuangan," ucap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi kepada IDN Times, Selasa (12/5/2026).

1. Rupiah melemah diikuti mata uang lainnya

ilustrasi mata uang dolar Amerika (pexels.com/cottonbro studio)

Lukman menyebut pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan depresiasi mata uang regional lainnya. Menurut Lukman, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah tingginya harga minyak dunia yang bertahan dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut dinilai perlahan menggerus nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS.

“Kalau dilihat, pelemahan rupiah juga diikuti oleh pelemahan mata uang regional yang tidak kalah besar. Faktor utama adalah harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi, yang secara perlahan akan terus menggerus nilai rupiah,” ujar Lukman.

2. Investor tunggu data MSCI

Ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.)

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut membebani pergerakan rupiah. Investor disebut cenderung mengambil posisi risk off menjelang pengumuman MSCI yang dinilai berpotensi mempengaruhi arus modal asing di pasar keuangan domestik.

Pengumuman hasil rebalancing MSCI Indonesia (May 2026 Index Review) dijadwalkan pada 12 Mei 2026 (waktu Eropa/AS), dan efektif berlaku pada penutupan pasar 29 Mei 2026.

Dia menambahkan, apabila hasil evaluasi MSCI lebih mengecewakan dari ekspektasi pasar, maka terdapat risiko arus modal keluar (capital outflow) yang lebih besar dari investor asing. Namun demikian, Lukman menilai pasar saham domestik kemungkinan sudah mengantisipasi skenario terburuk terkait pengumuman MSCI tersebut.

“Apabila MSCI lebih mengecewakan tentunya dikhawatirkan outflow akan lebih besar. Namun melihat perkembangan terbaru, IHSG seharusnya sudah priced in worst case MSCI,” tuturnya.

3. BI harus pantau dan intervensi stabilkan rupiah

Gedung Bank Indonesia sebagai simbol otoritas moneter dan intervensi pasar.

Meski demikian, ia menegaskan Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, kewenangan intervensi sepenuhnya berada di tangan bank sentral, baik terkait waktu maupun besaran intervensi yang dilakukan.

“Ruang intervensi adalah wewenang BI untuk sejauh mana dan kapan melakukan intervensi,” ujar Lukman.

Editorial Team