ilustrasi geopolitik (pexels.com/SUZY Hazelwood)
Analis Jefferies menilai hubungan lama antara risiko geopolitik dan pelemahan saham tambang telah berubah. Selama bertahun-tahun, perang dagang, konflik militer, dan sanksi biasanya memperketat kondisi keuangan, memperlambat permintaan dari negara berkembang, serta menunda belanja modal, yang berdampak negatif pada konsumsi logam dan margin perusahaan tambang.
Namun dalam setahun terakhir, pola tersebut terbalik. Perang di Ukraina dan kebijakan tarif Gedung Putih mengganggu arus logam global, sementara ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap energi dan jalur pelayaran. Perang dagang berkelanjutan antara AS dan China juga memicu pembatasan ekspor mineral kritis dan teknologi industri.
Dilansir Yahoo Finance, dalam enam bulan terakhir, investasi di indeks S&P 500 hanya mencatat imbal hasil sekitar 8 persen. Sebaliknya, sektor tambang AS (XME) melonjak 48 persen, sementara sektor tambang global (PICK) naik 57 persen dalam periode yang sama.
“Risiko geopolitik tidak lagi menandakan penurunan konsumsi dan justru cenderung menandakan pengetatan pasokan, kontrol ekspor, sanksi, dan penimbunan persediaan,” tulis Christopher LaFemina dan Giovanni Holmes dari Jefferies dalam catatan kepada klien.
Mereka menambahkan. kondisi tersebut “meningkatkan premi kelangkaan dan secara efektif menurunkan biaya modal perusahaan tambang.”
Pasokan baru juga terhambat oleh kebijakan lingkungan yang lebih ketat di negara-negara Barat serta meningkatnya nasionalisme sumber daya di Amerika Latin dan Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo yang menguasai sekitar tiga perempat produksi kobalt global.