Ilustrasi Belanja. (IDN Times/Sunariyah)
Perjalanan Super Indo tidak bisa dilepaskan dari dinamika bisnis ritel era 1990-an. Pada awal dekade tersebut, Salim Group mulai masuk sebagai investor di Gelael Supermarket dan KFC Indonesia. Kerja sama formal untuk mengembangkan Gelael Supermarket kemudian dimulai pada 1992.
Gelael sendiri sudah berdiri sejak 1950-an dan dikenal sebagai salah satu pelopor swalayan modern di Indonesia. Saat itu, namanya cukup kuat di segmen ritel perkotaan dan berada dalam lingkaran bisnis yang sama dengan pemain besar lainnya seperti Hero Supermarket.
Namun, performa bisnis Gelael Supermarket tidak berjalan semulus ekspansi KFC Indonesia. Sejumlah gerai mengalami kerugian dan terpaksa ditutup. Perbedaan strategi dan arah pengembangan bisnis akhirnya membuat kerja sama antara Salim Group dan Dick Gelael berakhir pada 31 Maret 1997. Kedua pihak sepakat membagi sisa gerai yang masih bertahan.
Dari total 18 gerai yang tersisa, sembilan outlet menjadi bagian Salim Group. Gerai-gerai inilah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Super Indo. Untuk memperkuat struktur bisnis dan mempercepat transformasi, Salim menggandeng Ahold Delhaize. Kolaborasi ini kemudian melahirkan PT Lion Super Indo pada 1997. Pada tahun pertamanya, selain mengelola sembilan gerai hasil pengalihan, perusahaan ini juga membuka tiga gerai baru sehingga total menjadi 12 gerai saat resmi beroperasi sebagai Super Indo.
Sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 51 persen, Ahold Delhaize membawa pengalaman global di sektor ritel makanan. Perusahaan yang berpusat di Belanda ini memiliki ribuan gerai di berbagai negara dan dikenal dengan logo singa khasnya.
Peralihan inilah yang menjadi titik balik penting. Dari restrukturisasi bisnis ritel lokal, Super Indo berkembang menjadi jaringan supermarket modern yang kini memiliki ratusan gerai dan puluhan ribu karyawan, serta terus memperluas jangkauannya di berbagai kota.