Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siapa Pemilik Superindo, Begini Sejarah hingga Pengendalinya Saat Ini
ilustrasi belanja di Super Indo (dok. Super Indo)
  • Super Indo berdiri sejak 1997 di bawah PT Lion Super Indo hasil kolaborasi Salim Group dan Ahold Delhaize, dengan kepemilikan mayoritas 51% oleh Ahold Delhaize.

  • Asal-usulnya bermula dari restrukturisasi Gelael Supermarket, ketika Salim Group mengambil sembilan gerai tersisa dan menggandeng Ahold Delhaize untuk membentuk jaringan supermarket modern baru.

  • Dengan lebih dari 12 ribu karyawan dan ratusan gerai, Super Indo fokus pada produk segar, kemitraan petani lokal, pemberdayaan UMKM, serta strategi bisnis berkelanjutan di berbagai kota Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Super Indo telah menjadi salah satu jaringan supermarket modern yang konsisten berekspansi di Indonesia sejak 1997. Di balik pertumbuhannya tersebut, struktur kepemilikan dan strategi bisnisnya kerap menarik perhatian, termasuk soal siapa pemilik Superindo dan bagaimana model kemitraannya dibangun.

Sejak awal berdiri, Super Indo telah berkembang melalui kolaborasi strategis antara Salim Group dan Ahold Delhaize. Sinergi antara konglomerasi nasional dan perusahaan ritel multinasional ini menjadi fondasi ekspansi perusahaan yang kini memiliki ratusan gerai di lebih dari 50 kota di Pulau Jawa dan bagian selatan Sumatera.

Didukung lebih dari 12 ribu karyawan, Super Indo mengedepankan standar operasional yang terjaga untuk memastikan kualitas dan kesegaran produk. Selain memperkuat jaringan distribusi, perusahaan juga membangun kemitraan dengan petani lokal serta memberdayakan UMKM sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan.

1. Kemitraan Salim Group dan Ahold Delhaize di balik Super Indo

foto Anthoni Salim, CEO Salim Group (indofood.com)

Super Indo beroperasi di bawah naungan PT Lion Super Indo yang mulai aktif di Indonesia sejak 1997. Dilansir dari laman resmi Super Indo, perusahaan ini merupakan hasil kemitraan antara Salim Group dan Ahold Delhaize.

Melansir laman resmi Super Indo, Ahold Delhaize memegang 51 persen saham sebagai pengendali mayoritas, sementara Salim Group memegang 49 persen. Komposisi ini menjelaskan kenapa identitas global Delhaize terlihat cukup kuat, termasuk melalui logo singa khasnya yang tersemat pada identitas Super Indo di Indonesia.

Ahold Delhaize sendiri dikenal sebagai salah satu peritel makanan terbesar di dunia, dengan jaringan yang melayani puluhan juta pelanggan setiap minggu di Amerika Serikat, Eropa, hingga Indonesia. Berdiri dari penggabungan Ahold dan Delhaize Group pada 2016, perusahaan ini membawa pengalaman ritel lebih dari satu abad ke dalam kemitraannya di Indonesia.

2. Awal mula Super Indo setelah pisah dari Gelael

Ilustrasi Belanja. (IDN Times/Sunariyah)

Perjalanan Super Indo tidak bisa dilepaskan dari dinamika bisnis ritel era 1990-an. Pada awal dekade tersebut, Salim Group mulai masuk sebagai investor di Gelael Supermarket dan KFC Indonesia. Kerja sama formal untuk mengembangkan Gelael Supermarket kemudian dimulai pada 1992.

Gelael sendiri sudah berdiri sejak 1950-an dan dikenal sebagai salah satu pelopor swalayan modern di Indonesia. Saat itu, namanya cukup kuat di segmen ritel perkotaan dan berada dalam lingkaran bisnis yang sama dengan pemain besar lainnya seperti Hero Supermarket.

Namun, performa bisnis Gelael Supermarket tidak berjalan semulus ekspansi KFC Indonesia. Sejumlah gerai mengalami kerugian dan terpaksa ditutup. Perbedaan strategi dan arah pengembangan bisnis akhirnya membuat kerja sama antara Salim Group dan Dick Gelael berakhir pada 31 Maret 1997. Kedua pihak sepakat membagi sisa gerai yang masih bertahan.

Dari total 18 gerai yang tersisa, sembilan outlet menjadi bagian Salim Group. Gerai-gerai inilah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Super Indo. Untuk memperkuat struktur bisnis dan mempercepat transformasi, Salim menggandeng Ahold Delhaize. Kolaborasi ini kemudian melahirkan PT Lion Super Indo pada 1997. Pada tahun pertamanya, selain mengelola sembilan gerai hasil pengalihan, perusahaan ini juga membuka tiga gerai baru sehingga total menjadi 12 gerai saat resmi beroperasi sebagai Super Indo.

Sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 51 persen, Ahold Delhaize membawa pengalaman global di sektor ritel makanan. Perusahaan yang berpusat di Belanda ini memiliki ribuan gerai di berbagai negara dan dikenal dengan logo singa khasnya.

Peralihan inilah yang menjadi titik balik penting. Dari restrukturisasi bisnis ritel lokal, Super Indo berkembang menjadi jaringan supermarket modern yang kini memiliki ratusan gerai dan puluhan ribu karyawan, serta terus memperluas jangkauannya di berbagai kota.

3. Strategi bisnis Super Indo: Dekat, segar, dan berkelanjutan

ilustrasi belanja di Super Indo (dok. Super Indo)

Sejak awal, Super Indo memosisikan diri sebagai supermarket modern yang dekat dengan kawasan permukiman. Konsepnya sederhana tapi relevan: menyediakan produk segar dengan harga kompetitif di lokasi yang mudah dijangkau.

Dilansir dari laman resminya, perusahaan ini menjaga kualitas melalui standar operasional yang ketat di seluruh lini, mulai dari pemilihan sumber bahan hingga penanganan produk di toko. Dengan dukungan lebih dari 12.000 karyawan, Super Indo kini hadir di lebih dari 50 kota di Pulau Jawa dan bagian selatan Sumatera.

Menariknya, ekspansi tersebut juga dibarengi komitmen sosial. Super Indo bermitra dengan petani lokal, memberdayakan UMKM sebagai pemasok, serta menjalankan berbagai inisiatif keberlanjutan—mulai dari promosi gaya hidup sehat hingga pengelolaan sampah. Strategi ini bukan hanya soal citra, tetapi bagian dari positioning jangka panjang di industri ritel modern yang semakin kompetitif.

Struktur kepemilikan PT Lion Super Indo yang menggabungkan kekuatan lokal dan jaringan global menjadi fondasi penting dalam perjalanan bisnisnya. Kemitraan antara Salim Group dan Ahold Delhaize tidak hanya membentuk identitas perusahaan, tetapi juga memengaruhi arah ekspansi, standar operasional, hingga positioning Super Indo di industri ritel modern.

Hampir tiga dekade berjalan, Super Indo menunjukkan bagaimana transformasi dari jaringan ritel lokal menjadi bagian dari grup internasional dapat memperkuat daya saing. Dengan ekspansi gerai yang terus berlanjut dan fokus pada kualitas produk serta kemitraan lokal, Super Indo tetap menjadi salah satu pemain yang konsisten di pasar supermarket Indonesia.

FAQ seputar siapa pemilik Super Indo

Siapa pemilik Super Indo?

Super Indo dimiliki oleh PT Lion Super Indo, perusahaan patungan antara Salim Group (49 persen) dan Ahold Delhaize (51 persen).

Apakah Super Indo milik perusahaan asing?

Sebagian saham Super Indo dimiliki perusahaan ritel global Ahold Delhaize asal Belanda, namun tetap bermitra dengan Salim Group sebagai pemegang saham lokal.

Sejak kapan Super Indo berdiri?

Super Indo resmi beroperasi pada 1997 setelah restrukturisasi gerai Gelael dan pembentukan PT Lion Super Indo.

Kenapa logo Super Indo bergambar singa?

Logo singa berasal dari identitas Ahold Delhaize sebagai pemegang saham mayoritas dan bagian dari jaringan ritel globalnya.

Editorial Team