Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Screenshot 2025-08-27 003112.jpg
Kewirausahaan dan Pekerjaan Sampingan Jadi Pilihan Utama Kaum Muda Indonesia. (Dok/IMGR 2025).

Intinya sih...

  • Usaha sampingan dan bisnis rintisan menawarkan fleksibilitas, ruang berekspresi, dan nilai pribadi.

  • Perkembangan ekonomi digital mempermudah calon pengusaha baru di berbagai daerah.

  • Kewirausahaan bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga tujuan hidup dan identitas budaya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Tren penciptaan pendapatan di kalangan anak muda Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Jika dulu pendapatan lebih banyak ditopang oleh pekerjaan formal, kini kewirausahaan dan pekerjaan sampingan semakin menjadi pilihan utama.

Dalam laporan terbaru Indonesia Millenial and Gen Z Report 2026 by IDN Research Institute yang diluncurkan dalam Indonesia Summit 2025, dijelaskan pergeseran ini terjadi di tengah meningkatnya biaya hidup, stagnasi upah, dan terbatasnya jaminan kerja.

"Kondisi tersebut membuat kewirausahaan tidak lagi sekedar aspirasi, melainkan kebutuhan nyata. Pekerjaan tradisional yang sebelumnya dianggap menjanjikan stabilitas, kini dinilai tidak lagi mampu memberikan kepastian yang sama," tulis laporan tersebut.

1. Usaha sampingan maupun bisnis rintisan menawarkan berbagai keunggulan

Meningkatnya konsumsi yang sadar dan berbasis nilai. (Dok/IMGR 2026).

Sebaliknya, usaha sampingan maupun bisnis rintisan justru menawarkan keunggulan yang sulit ditemukan di pekerjaan formal, seperti fleksibilitas, ruang untuk berekspresi, serta penyelarasan dengan nilai pribadi.

Tak hanya itu, sebanyak 46 persen anak muda Indonesia terlibat dalam pekerjaan sampingan atau pekerjaan lepas. Namun, ini bukan sekadar tentang menghasilkan uang tambahan, namun tentang tanggung jawab dan tujuan jangka panjang.

"Bahkan 63 persen (responden) mengatakan, mereka memiliki (pekerjaan sampingan) untuk menghidupi keluarga dan 60 persen menyebutkan membangun tabungan pribadi," kata laporan tersebut.

Data ini mengungkapkan gambaran berlapis pekerjaan sampingan bukan sekadar solusi ekonomi instan, melainkan inti dari bagaimana anak muda menyeimbangkan dukungan keluarga, kemandirian, dan visi ke depan.

2. Perkembangan ekonomi digital mempermudah calon pengusaha baru

Platform e-commerce (sumber gambar dari pinterest kemudian saya satukan)

Berkat perkembangan ekonomi digital, memulai usaha kini semakin mudah. Platform e-commerce, pinjaman peer-to-peer, pembayaran digital, hingga media sosial menurunkan hambatan bagi calon pengusaha baru.

Anak muda di berbagai daerah, termasuk di luar Jakarta, kini mampu menciptakan pendapatan yang personal, lokal, dan terukur mulai dari gerai makanan dan minuman pop up di desa, hingga inovasi teknologi pertanian di kota-kota sekunder.

3. Tak hanya soal keuntungan finansial tapi tujuan hidup

Perkembangan Ekonomi Digital dan E-commerce (pinterest.com/Windy Pierre)

Lebih jauh, pergeseran ini tidak hanya soal keuntungan finansial, melainkan juga soal tujuan hidup. Banyak wirausahawan muda membangun usaha yang berakar pada komunitas, keberlanjutan, dan identitas budaya.

Mereka mendefinisikan ulang makna aktivitas ekonomi, bukan sekedar bertahan hidup, melainkan wujud dari jati diri mereka.

Bagi generasi muda Indonesia, pekerjaan sampingan dan kewirausahaan bukan lagi sekedar alternatif, melainkan jalur standar baru menuju keamanan, kemandirian, dan pekerjaan yang bermakna. Mereka tidak hanya mencari cara untuk bertahan, tetapi juga merancang kehidupan yang sesuai dengan impian mereka.

Editorial Team