IMGR 2026: 40 Persen Fans Merasa Musisi Idola Bentuk Identitas Mereka

- Fandom menjadi identitas bagi penggemarnya
- Gen Z menggunakan musik untuk mengekspresikan jati diri
- PAPION lebih menonjolkan perasaan jujur daripada tampil sempurna tanpa cela
Jakarta, IDN Times - Bagi Gen Z, musik bukan cuma soal genre belaka, tetapi juga mencerminkan kepribadian hingga perasaan dari pendengarnya. Laporan Indonesia Gen Z Report (IMGR) 2025 dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa komunitas atau fandom kini mulai menjadi bagian penting dari identitas diri mereka.
Generasi Milenial dan Gen Z di Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton pasif. Mereka aktif menyebarkan, mengubah, dan sampai menciptakan ulang bentuk hiburan yang mereka nikmati. Hiburan kini menjadi sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai pribadi, terhubung dengan komunitas, dan membangun koneksi sosial yang bermakna. Bahkan, bagi banyak anak muda, fandom bisa terasa seperti keluarga kedua.
Lalu, bagaimana sebenarnya fandom bisa berkembang menjadi bagian dari identitas penggemarnya?
1. Fandom kini menjadi identitas bagi penggemarnya

Artis pun dapat memengaruhi kepribadian. Survei yang dilakukan IDN Research Institute mencatat, sebanyak 40 persen penggemar musik di Indonesia mengaku bahwa artis favorit berperan penting dalam membentuk identitas diri mereka.
Penelitian tersebut menyinggung catatan industri bahwa grup perempuan kini mendorong pertumbuhan genre musik, sementara grup laki-laki mulai stagnan. Pergeseran ini bukan cuma soal angka penjualan, tapi juga tentang bagaimana preferensi emosional dan perilaku audiens juga berkembang.
Konsumen perempuan juga lebih memprioritaskan nilai personal, kedekatan emosional, dan interaksi dua arah. Ini adalah elemen-elemen yang membuat grup perempuan lebih relevan secara budaya dan komersial bagi generasi muda.
2. Gen Z menggunakan musik untuk mengekspresikan jati diri

Dalam survei yang sama, ditemukan bahwa 73 persen Gen Z menggunakan musik untuk mengekspresikan identitas diri mereka. Misalnya, PAPION, salah satu grup perempuan yang muncul dengan formasi multikultural pada 2025. Nama PAPION sendiri berasal dari kata papillon dalam bahasa Prancis yang berarti kupu-kupu, melambangkan transformasi, pertumbuhan, dan keunikan individu. Setiap anggota membawa kepribadian dan perspektif yang berbeda-beda.
Lebih dari sekadar karya seni, PAPION mencerminkan pergeseran perilaku yang lebih besar. Audiens mereka ikut terlibat lewat konten pendek, editan fans, dance challenge, hingga remix visual. Ini mencerminkan cara kerja hiburan bagi Milenial dan Gen Z yang partisipatif serta interaktif.
3. PAPION lebih menonjolkan perasaan jujur daripada tampil sempurna tanpa cela

Lagu debut mereka, “Push the Button,” mengajak pendengarnya untuk percaya pada ritme hidup sendiri, menerima perubahan, dan berani mengendalikan narasi pribadi mereka. Bagi Gen Z, pesan dari lagu ini terasa tepat dan menguatkan. Penceritaan emosional mereka mencerminkan preferensi Gen Z terhadap narasi slice of life di mana kerentanan dan pertumbuhan pribadi lebih penting daripada kesempurnaan.
Apalagi dalam ekosistem digital di mana mayoritas Gen Z menggunakan musik untuk mengekspresikan jati diri, PAPION tampil beda dengan mengedepankan kejelasan emosional dibanding kesempurnaan. Musik dan visual mereka menekankan pada keaslian, refleksi, dan kebebasan untuk berkembang.
IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility." IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.
Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.