Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Strategi Planogram untuk Tingkatkan Impulse Buying Konsumen
Ilustrasi toko (pexels.com/Aqsawii)
  • Impulse buying terjadi saat pelanggan membeli produk secara spontan, dan planogram digunakan untuk menata produk agar menarik perhatian serta meningkatkan peluang pembelian tambahan.
  • Lima strategi utama mencakup penempatan produk di eye level, pengelompokan barang terkait, penempatan produk impulsif di kasir, penyesuaian dengan perilaku pelanggan, dan pemanfaatan area lalu lintas tinggi.
  • Planogram bukan sekadar merapikan rak, tetapi strategi visual merchandising yang efektif untuk mengarahkan perhatian konsumen dan menaikkan nilai transaksi tanpa menambah jumlah pengunjung toko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam dunia ritel modern, keputusan pembelian pelanggan tidak selalu direncanakan sejak awal. Banyak konsumen datang ke toko dengan daftar belanja tertentu, tetapi akhirnya membeli produk tambahan yang sebelumnya tidak mereka rencanakan. Fenomena ini dikenal sebagai impulse buying atau pembelian impulsif, yaitu keputusan membeli produk yang muncul secara spontan ketika pelanggan melihat barang yang menarik, mudah dijangkau, atau dianggap memberikan nilai tambah. Bagi pelaku usaha, impulse buying menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai transaksi tanpa harus menambah jumlah pengunjung toko.

Salah satu cara yang efektif untuk mendorong impulse buying adalah melalui penerapan planogram, yaitu strategi penataan produk di rak berdasarkan posisi, kategori, ukuran, hingga perilaku belanja konsumen. Planogram bukan sekadar menyusun barang agar terlihat rapi, tetapi merupakan teknik visual merchandising yang dirancang untuk mengarahkan perhatian pelanggan dan meningkatkan peluang pembelian. Dengan tata letak yang tepat, toko dapat membuat pelanggan menemukan lebih banyak produk menarik selama berbelanja. Berikut beberapa strategi planogram untuk tingkatkan impulse buying konsumen.

1. Meletakkan produk unggulan pada posisi eye level

ilustrasi belanja di supermarket (freepik.com/freepik)

Posisi setinggi mata atau eye level merupakan area rak yang paling mudah dilihat pelanggan ketika berjalan melewati lorong toko. Produk yang ditempatkan pada posisi ini memiliki peluang lebih besar untuk diperhatikan dibandingkan dengan produk yang berada di rak paling bawah atau paling atas.

Oleh karena itu, produk dengan margin keuntungan tinggi, produk baru, atau produk yang sedang dipromosikan sebaiknya ditempatkan pada area eye level. Penempatan tersebut dapat meningkatkan visibilitas produk sehingga peluang terjadinya pembelian spontan menjadi lebih besar.

2. Mengelompokkan produk yang saling berkaitan

Ilustrasi rak produk (pexels.com/Magda Ehlers)

Pelanggan sering kali membeli lebih dari satu produk apabila barang-barang tersebut ditempatkan dalam satu area yang saling melengkapi. Misalnya, kopi dapat dipajang berdekatan dengan gula, krimer, atau biskuit, sedangkan mi instan dapat ditempatkan dekat telur atau sosis.

Strategi ini membantu pelanggan menemukan kebutuhan tambahan tanpa harus mencarinya di rak lain. Selain meningkatkan kenyamanan berbelanja, penempatan produk yang saling berkaitan juga mampu meningkatkan nilai transaksi setiap pelanggan.

3. Menempatkan produk impulsif di area kasir

ilustrasi melayani pembeli (freepik.com/drobotdean)

Area kasir merupakan salah satu lokasi paling strategis dalam sebuah toko. Saat mengantre untuk membayar, pelanggan biasanya memiliki waktu untuk melihat berbagai produk kecil yang berada di sekitar kasir.

Produk seperti permen, cokelat, minuman kemasan kecil, baterai, tisu basah, atau aksesori sederhana sering kali dibeli secara spontan. Penempatan produk-produk tersebut di dekat kasir menjadi salah satu teknik planogram yang paling banyak digunakan oleh toko modern.

4. Menyesuaikan planogram dengan perilaku pelanggan

ilustrasi belanja di supermarket (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Setiap jenis toko memiliki karakteristik pelanggan yang berbeda. Tata letak produk di minimarket tentu berbeda dengan supermarket, toko perlengkapan bayi, toko kosmetik, atau toko elektronik.

Memahami pola pergerakan pelanggan di dalam toko membantu pemilik usaha menyusun planogram yang lebih efektif. Produk yang paling sering dicari dapat dijadikan titik awal perjalanan pelanggan, sementara produk pendukung ditempatkan di sepanjang jalur tersebut untuk meningkatkan peluang pembelian tambahan.

5. Memanfaatkan area dengan lalu lintas tinggi

Ilustrasi Supermarket (unsplash.com/@gronemo)

Tidak semua sudut toko memiliki jumlah pengunjung yang sama. Area dekat pintu masuk, lorong utama, dan jalur menuju kasir biasanya menjadi lokasi yang paling sering dilalui pelanggan.

Produk promosi, produk musiman, atau barang dengan margin keuntungan tinggi sebaiknya ditempatkan pada area tersebut. Karena hampir semua pelanggan melewatinya, peluang produk untuk dilihat dan dibeli secara spontan menjadi lebih besar.

Tidak hanya bertujuan membuat rak terlihat rapi, tetapi strategi planogram untuk tingkatkan impulse buying konsumen juga mampu menambah efektivitas penjualan. Penempatan produk pada posisi yang tepat, pengelompokan barang yang saling berkaitan, penggunaan display yang menarik, hingga evaluasi tata letak secara berkala dapat mendorong terjadinya impulse buying tanpa memberikan kesan memaksa kepada pelanggan. Strategi ini menjadi salah satu bagian penting dari visual merchandising yang telah banyak diterapkan oleh toko modern.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article