Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Hanya Kenaikan Harga BBM, Ini Sederet Faktor Pemicu Inflasi
ilustrasi inflasi (freepik.com/freepik)
  • Kenaikan harga BBM mendorong inflasi karena meningkatkan biaya produksi dan distribusi, terutama di sektor transportasi dan logistik yang berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok.
  • Inflasi juga dipicu oleh naiknya permintaan barang dan jasa, kenaikan harga bahan baku, serta bertambahnya jumlah uang beredar yang melebihi pertumbuhan ekonomi.
  • Faktor lain seperti pelebaran defisit anggaran, ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga, dan krisis moneter turut memperkuat tekanan inflasi di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi mendorong inflasi dalam perekonomian nasional. Sebagai komponen penting dalam produksi dan distribusi, kenaikan BBM turut meningkatkan biaya operasional di berbagai sektor.

Dampak paling nyata terlihat pada sektor transportasi dan logistik. Kenaikan ongkos distribusi mendorong harga barang, terutama kebutuhan pokok, ikut naik. Kondisi ini kemudian dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya harga di pasar.

Namun, inflasi tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga BBM. Lantas, faktor apa saja yang turut mendorong kenaikan inflasi?

1. Naiknya permintaan terhadap barang dan jasa

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Inflasi dapat terjadi ketika permintaan terhadap barang dan jasa meningkat melebihi pasokan yang tersedia. Saat kebutuhan masyarakat tidak mampu dipenuhi oleh produsen, harga cenderung naik.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan jumlah penduduk, atau perubahan preferensi konsumen.

2. Kenaikan harga bahan baku

Pedagang cabai di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Aceh. (IDN Times/Mhd Saifullah)

Kenaikan harga bahan baku produksi, seperti minyak bumi, gas alam, atau komoditas pertanian, dapat memicu inflasi dari sisi penawaran.

Biaya produksi yang meningkat umumnya akan dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Dalam banyak kasus, kondisi ini juga dapat diikuti oleh perlambatan aktivitas usaha.

3. Bertambahnya jumlah uang beredar

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Jumlah uang beredar yang meningkat terlalu cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi juga dapat menyebabkan inflasi.

Ketika uang beredar berlebih, nilai uang menurun sehingga harga barang dan jasa naik karena dibutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama.

4. Pelebaran defisit anggaran

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Defisit anggaran belanja pemerintah dapat menjadi salah satu pemicu inflasi, terutama di negara berkembang.

Kondisi ini umumnya terjadi akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kemampuan pendanaan, yang dapat mendorong peningkatan likuiditas di pasar.

5. Ekspektasi masyarakat

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Ekspektasi atau perkiraan masyarakat terhadap inflasi di masa depan juga berperan penting.

Jika pelaku ekonomi memperkirakan harga akan naik, mereka cenderung menaikkan harga barang atau meminta kenaikan upah. Kondisi ini dapat menjadi self-fulfilling prophecy, yakni ekspektasi yang akhirnya menjadi kenyataan.

6. Krisis moneter

ilustrasi kebijakan moneter (Pexels.com)

Krisis moneter, seperti depresiasi nilai tukar atau gangguan di sektor perbankan, juga dapat memicu inflasi.

Depresiasi membuat harga barang impor menjadi lebih mahal, sementara krisis perbankan dapat menghambat penyaluran kredit dan mengganggu aktivitas ekonomi.

Editorial Team