ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Perjanjian ini tercapai setelah perundingan intensif yang berlangsung berbulan-bulan. Presiden Taiwan Lai Ching-te sebelumnya telah menyatakan komitmen menambah investasi di AS dan meningkatkan anggaran pertahanan sebagai bagian dari upaya menurunkan bea masuk serta melindungi ekspor chip dari potensi tarif lebih tinggi.
Taiwan selama ini dikenal sebagai aktor dominan dalam industri semikonduktor yang menopang ekonomi global sekaligus pusat produksi berbagai perangkat elektronik. Negara tersebut memasok sebagian besar chip dunia, termasuk teknologi paling mutakhir, dengan TSMC menempati posisi teratas jauh di atas pesaingnya.
Dilansir dari The Guardian, pada 2024, surplus perdagangan barang Taiwan dengan AS tercatat sekitar 74 miliar dolar AS (setara Rp1.249 triliun). Lebih dari separuh ekspor ke Amerika berasal dari sektor teknologi informasi dan komunikasi, termasuk semikonduktor, yang dipandang krusial oleh pemerintahan Trump untuk mendorong inovasi sekaligus memperkuat daya saing menghadapi China.
Perusahaan Taiwan yang membangun fasilitas chip baru di AS juga dijanjikan perlakuan lebih istimewa terkait bea masuk semikonduktor ke depan. AS menegaskan tidak akan mengenakan tarif tambahan terhadap obat generik, komponen pesawat terbang, serta sejumlah bahan alam yang tidak tersedia di dalam negeri.
Pengumuman kesepakatan ini disampaikan menjelang Mahkamah Agung AS mengeluarkan putusan penting mengenai kewenangan presiden dalam memberlakukan tarif impor secara sepihak terhadap negara lain.