Uber mengumumkan investasi besar senilai lebih dari 100 juta dolar AS (Rp1,6 triliun) untuk membangun infrastruktur pengisian daya cepat (DC) di Amerika. Dana tersebut akan dialokasikan untuk mendirikan depo otonom yang berfungsi sebagai pusat pengisian daya, pemeliharaan, pembersihan, dan inspeksi teknis harian. Fasilitas ini dirancang khusus untuk memastikan armada robotaxi selalu dalam kondisi prima dan siap beroperasi secara maksimal di jalanan kota.
Juru bicara Uber menjelaskan bahwa keputusan untuk memiliki aset fisik ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya jangka panjang. Dengan infrastruktur mandiri, Uber dapat menjaga kendaraan tetap beroperasi lebih lama melalui maksimalisasi waktu aktif. Proyek ini akan dimulai di tiga wilayah utama, yaitu San Francisco Bay Area, Los Angeles, dan Dallas, sebelum nantinya berekspansi ke kota-kota besar lain di dunia sesuai data kepadatan permintaan platform.
Kepala Mobilitas Global di Uber, Pradeep Parameswaran menegaskan pentingnya ketersediaan sarana pendukung dalam transisi teknologi ini.
"Kota-kota di seluruh dunia hanya dapat membuka potensi penuh dari teknologi otonom dan elektrifikasi jika infrastruktur pengisian daya yang tepat dibangun sesuai dengan skala kebutuhan, di mana infrastruktur tersebut harus mampu melayani pengemudi saat ini sekaligus mendukung kebutuhan armada masa depan," ujarnya dalam pernyataan resmi, dilansir Gizmodo.
Pembangunan pusat pengisian daya ini menjadi solusi teknis untuk meminimalkan waktu henti kendaraan, mengingat armada otonom memiliki intensitas penggunaan yang jauh lebih tinggi daripada kendaraan pribadi. Dengan menempatkan stasiun pengisian di area lalu lintas tinggi, Uber berharap dapat mengatasi hambatan operasional sehingga armada tidak perlu menempuh jarak jauh hanya untuk mengisi daya.