Gelombang boikot terhadap produk AS di Denmark dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump pada awal Januari 2026, yang kembali menyatakan keinginannya membeli Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan nasional menghadapi China dan Rusia. Pernyataan itu memicu kemarahan publik di Denmark, yang merasa didominasi secara politis dan ekonomi oleh Washington.
Sebagai bentuk protes, banyak warga beralih menggunakan aplikasi pemindai produk seperti UdenUSA untuk menghindari barang asal AS, termasuk merek populer seperti Coca-Cola yang didistribusikan oleh Carlsberg di Denmark. Gerakan boikot ini juga meluas ke pembatalan perjalanan wisata ke AS serta penghentian langganan layanan streaming seperti Netflix, meski dampak ekonominya relatif kecil mengingat impor makanan asal AS hanya mencakup sekitar 1 persen dari konsumsi Denmark.
Menariknya, kecaman terhadap Trump tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari kalangan politik. Partai Rakyat Denmark yang dikenal pro-Trump pun ikut mengkritik keras. Anggota Parlemen Eropa dari partai tersebut, Anders Vistisen, bahkan mengucapkan kata kasar kepada Trump di Parlemen Eropa, hingga mendapat teguran resmi. Pipper mengatakan, fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan sikap politik.
“Cukup menarik melihat bagaimana ini membuat warga Denmark biasa bisa menyampaikan pesan ke AS,” ujarnya, dilansir Fortune.