Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi laki-laki mengalami financial burnout
ilustrasi laki-laki mengalami financial burnout (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Belanja online sebagai pelarian saat stres, bukan kebutuhan.

  • Gaji naik tapi rasa cemas soal uang ikut naik, terus mengejar level berikutnya.

  • Selalu membandingkan hidup dengan orang lain, menguras energi mental secara perlahan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa uang cepat habis padahal kamu tidak merasa belanja berlebihan? Gaji masuk, lalu keluar lagi tanpa benar-benar kamu sadari ke mana perginya. Kamu bekerja keras, tapi pikiran soal uang tetap bikin lelah. Jika kondisi ini sering terjadi, ada kemungkinan masalahnya bukan di penghasilanmu.

Kelelahan ini sering muncul saat kamu terus memaksakan standar hidup orang lain. Tekanan sosial, FOMO, dan kebiasaan belanja online membuat uang terasa tidak pernah cukup. Tanpa sadar, kamu terjebak dalam siklus stres. Yuk simak lima tanda kamu sudah masuk tahap financial burnout dan perlu berhenti sejenak.

1. Belanja jadi pelarian saat stres

ilustrasi diskon belanja online (freepik.com/freepik)

Kamu sadar belanja online sering terjadi bukan karena butuh, tapi karena lagi capek pikiran. Setiap ada masalah kerja atau tekanan hidup, scroll e-commerce terasa menenangkan. Diskon, gratis ongkir, dan flash sale jadi alasan pembenaran yang terasa masuk akal. Padahal setelah barang datang, rasa lega itu cepat hilang.

Kebiasaan ini berkaitan erat dengan kecanduan belanja online. Dopamin sesaat dari checkout tidak menyelesaikan stres karena uang, malah menambah beban baru. Tagihan bertambah, rasa bersalah ikut muncul. Lama-lama, siklus ini bikin mental makin lelah tanpa disadari.

2. Gaji naik tapi rasa cemas soal uang ikut naik

ilustrasi perempuan mengevaluasi keuangan (freepik.com/tirachardz)

Secara logika, pendapatan lebih besar harusnya bikin hidup lebih tenang. Namun yang kamu rasakan justru sebaliknya, kecemasan soal uang makin sering muncul. Pengeluaran ikut naik karena standar hidup juga ikut menyesuaikan. Kamu merasa harus “pantasan” dengan gaji sekarang.

Ini tanda klasik financial burnout yang sering tidak disadari. Kamu tidak menikmati hasil kerja keras karena terus mengejar level berikutnya. Setiap pencapaian finansial terasa cepat basi. Uang berhenti menjadi alat bantu hidup dan berubah jadi sumber stres.

3. Selalu membandingkan hidup dengan orang lain

ilustrasi perempuan menggunakan handphone (freepik.com/freepik)

Melihat orang lain liburan, beli gadget baru, atau nongkrong di tempat mahal bikin kamu gelisah. Ada dorongan kuat untuk ikut, meski harus mengorbankan tabungan atau menambah cicilan. Kamu takut dianggap tertinggal atau tidak relevan. Padahal kondisi finansial setiap orang jelas berbeda.

Perbandingan ini menguras energi mental secara perlahan. Stres karena uang muncul bukan dari kebutuhan nyata, tapi tekanan sosial yang kamu internalisasi sendiri. Kamu jadi sulit menikmati apa yang sudah dimiliki. Di titik ini, uang lebih sering melukai daripada menenangkan.

4. Setiap buka rekening rasanya ingin menghindar

ilustrasi laki-laki takut melihat saldo rekening (freepik.com/stockking)

Kamu tahu harus cek saldo, tapi memilih menunda karena takut melihat kenyataan. Notifikasi bank atau tagihan terasa mengganggu dan bikin sesak. Bahkan sekadar membuka aplikasi keuangan sudah cukup memicu bad mood. Ini bukan malas, tapi tanda kelelahan emosional.

Financial burnout membuat hubunganmu dengan uang jadi tidak sehat. Kamu cenderung menghindar daripada menghadapi. Padahal tanpa disadari, sikap ini memperparah stres karena uang. Semakin ditunda, semakin berat beban psikologisnya.

5. Merasa capek meski tidak sedang kekurangan ekstrem

ilustrasi perempuan lelah (freepik.com/freepik)

Kamu masih bisa makan, bayar kos, dan bertahan hidup. Namun secara mental, rasanya lelah memikirkan uang terus-menerus. Setiap keputusan kecil selalu diiringi hitung-hitungan dan rasa bersalah. Hidup terasa seperti bertahan, bukan menikmati.

Kondisi ini sering dialami orang yang terjebak mengejar standar hidup tidak realistis. Financial burnout muncul karena kamu terus memaksa diri, bukan karena kamu gagal. Menyadari kelelahan ini adalah langkah awal untuk berhenti menyiksa diri sendiri. Uang seharusnya mendukung hidup, bukan mengurasnya.

Mengalami financial burnout bukan tanda kamu boros atau tidak disiplin. Bisa jadi kamu hanya terlalu lama hidup di bawah tekanan standar yang bukan milikmu. Berhenti belanja bukan berarti menghukum diri, tapi memberi ruang untuk bernapas. Yuk, mulai jujur dengan kondisi keuangan dan pulihkan hubunganmu dengan uang, pelan-pelan tapi nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team