Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Antam Cetak Laba Rp3,41 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 59,85 Persen
Kondisi Butik Emas Antam Setiabudi One, di Jakarta Selatan, Jumat (11/4/2025). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Antam mencatat laba bersih Rp3,41 triliun pada kuartal I-2026, naik 59,85 persen dibanding periode sama tahun lalu berkat peningkatan kinerja operasional dan efisiensi perusahaan.
  • Segmen nikel dan emas menjadi penopang utama pertumbuhan, didukung beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina yang mendorong lonjakan laba usaha hingga 67 persen menjadi Rp4,5 triliun.
  • Penjualan bersih mencapai Rp29,32 triliun dengan kontribusi emas sebesar 81 persen; strategi penguatan pasar domestik membuat penjualan emas tumbuh 11 persen menjadi Rp23,89 triliun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,41 triliun pada kuartal I-2026. Angka itu melonjak 59,85 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar Rp2,13 triliun.

Pertumbuhan laba bersih perseroan sejalan dengan laba bruto perusahaan yang mencapai Rp5,62 triliun, naik 54 persen secara year on year (yoy). Peningkatan kinerja tersebut turut mendorong kenaikan laba bersih per saham dasar menjadi Rp141,77 per saham dasar, atau meningkat 60 persen dibandingkan Rp88,69 per saham dasar pada kuartal I-2025.

1. Segmen nikel dan emas paling laris

Ilustrasi emas logam mulia (LM) PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Kinerja operasional perusahaan ditopang oleh segmen nikel yang optimal dan penguatan sourcingemas untuk menjaga pasokan.

Selain itu, mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) turut memperkuat pertumbuhan pada segmen bauksit dan alumina. Hal itu mendorong laba usaha perusahaan meroket 67 persen menjadi Rp4,5 triliun pada kuartal I-2026, dari sebelumnya Rp2,69 triliun pada kuartal I-2025.

2. Aset tumbuh menjadi Rp63,3 Triliun

Produksi nikel PT Aneka Tambang Tbk (Antam). (dok. Antam)

Adapun total ekuitas perusahaan juga naik, yakni 10,4 persen, dari Rp36,6 triliun menjadi Rp40,41 triliun. Sementara itu, posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp9,04 triliun, meningkat dari posisi Desember 2025 yang sebesar Rp8,43 triliun.

Adapun liabilitas perusahaan mencapai Rp16,8 triliun pada kuartal I-2026, naik 43,68 persen atau Rp6,96 triliun dibandingkan kuartal I-2026.

Total liabilitas terdiri dari liabilitas jangka panjang sebesar Rp6,09 triliun, turun 2,48 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp6,25 triliun. Liabilitas jangka pendek mengalami kenaikan, yakni sebesar 73,47 persen, dari Rp9,68 triliun pada kuartal I-2025, menjadi Rp16,8 triliun pada kuartal I-2026.

Hingga 31 Maret 2026, total aset Antam tercatat mencapai Rp63,3 triliun, melonjak dari posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp52,53 triliun.

3. Penjualan emas mendominasi pertumbuhan pendapatan

Produksi nikel PT Aneka Tambang Tbk (Antam). (dok. Antam)

Pada kuartal I-2026, penjualan bersih Antam mencapai Rp29,32 triliun, tumbuh 12 persen dibandingkan Rp26,15 triliun pada kuartal I-2026.

Penjualan domestik berkontribusi sebesar Rp28,31 triliun atau setara 97 persen dari total penjualan bersih. Pertumbuhan ini sejalan dengan strategi untuk mem perkuat basis pelanggan dalam negeri, khususnya pada produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.

“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” kata Untung dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

Adapun segmen emas berkontribusi sekitar 81 persen terhadap total penjualan. Penjualan emas tumbuh 11 persen menjadi Rp23,89 triliun, dari Rp21,61 triliun pada kuartal I-2026. Melalui penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas mencapai 8.464 kg (272.124 troy ounce/toz.).

Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) berkontribusi sebesar 15 persen atau Rp4,47 triliun terhadap total penjualan pada kuartal I-2026, meningkat 19 persen dari Rp3,77 triliun pada kuartal I-2025.

Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan sebesar 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik. Sementara itu, produksi feronikel tercatat sebesar 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan mencapai 2.803 TNi. Seluruh penjualan feronikel terserap oleh pasar ekspor.

Segmen bauksit dan alumina berkontribusi sebesar 3 persen terhadap total penjualan dengan nilai Rp879,14 miliar, meningkat 24 persen dibandingkan Rp708,75 miliar pada kuartal I-2026. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, sejalan dengan optimalisasi kapasitas dan produktivitas tambang serta peningkatan serapan pasar domestik. Volume penjualan tercatat sebesar 593.476 wmt, naik 9 persen dari 544.750 wmt pada kuartal I-2025.

Sejalan dengan optimalisasi operasi pabrik CGA, produksi alumina (chemical grade alumina) mencapai 49.566 ton, meningkat 13 persen dibandingkan 44.051 ton pada kuartal I-2025. Dari sisi penjualan, volume tercatat sebesar 49.072 ton, tumbuh 11 persen dari 44.048 ton.

Editorial Team