Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bayar Utang atau Siapkan Dana Darurat? Pahami Dulu 6 Hal Ini
ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)

Intinya sih...

  • Kondisi pekerjaan menentukan tingkat urgensi dana darurat

  • Besaran bunga utang memengaruhi prioritas pembayaran

  • Jenis dan risiko utang tidak bisa disamakan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengatur keuangan pribadi sering kali menjadi tantangan besar, terutama saat seseorang harus memilih antara bayar utang atau siapkan dana darurat. Kondisi ini umum dialami oleh banyak orang karena kewajiban cicilan berjalan bersamaan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat. Di sisi lain, tidak semua orang memiliki tabungan yang cukup untuk menghadapi situasi darurat.

Idealnya, keuangan yang sehat ditandai dengan utang yang terkontrol dan dana darurat yang tersedia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi finansial setiap orang berbeda, dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, besar penghasilan, hingga beban tanggungan. Agar tidak salah langkah, berikut enam pertimbangan yang bisa membantumu menentukan apakah sebaiknya bayar utang atau siapkan dana darurat lebih dulu.

1. Kondisi pekerjaan menentukan tingkat urgensi dana darurat

ilustrasi sukses (pexels.com/fauxels)

Stabilitas pekerjaan memegang peranan penting dalam menentukan prioritas keuangan. Seseorang dengan pendapatan tetap dan posisi kerja yang relatif aman tentu memiliki ruang manuver yang lebih luas dalam mengatur cicilan dan tabungan. Namun, situasi akan sangat berbeda bagi mereka yang bekerja dengan sistem kontrak, proyek, atau pendapatan yang fluktuatif setiap bulan.

Dalam kondisi pekerjaan yang tidak stabil, dana darurat menjadi pelindung utama agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Tanpa cadangan dana, risiko kembali berutang saat penghasilan terhenti akan semakin besar. Situasi ini justru bisa memperburuk kondisi finansial karena utang lama belum selesai, sementara utang baru kembali muncul.

2. Besaran bunga utang memengaruhi prioritas pembayaran

ilustrasi suku bunga (freepik.com/Freepik)

Selain kondisi pekerjaan, besaran bunga utang juga perlu menjadi perhatian utama. Utang dengan bunga rendah umumnya tidak terlalu menekan arus kas bulanan sehingga masih memungkinkan untuk dibayar secara bertahap. Dalam situasi ini, menyisihkan dana darurat meski dengan nominal kecil tetap menjadi langkah yang bijak.

Sebaliknya, utang dengan bunga tinggi bisa menjadi beban jangka panjang jika tidak segera dikendalikan. Bunga yang terus bertambah akan menggerus kemampuan finansial dan membuat alokasi dana semakin sempit. Jika dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin rencana membangun dana darurat justru terus tertunda.

3. Jenis dan risiko utang tidak bisa disamakan

ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)

Setiap jenis utang memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Utang yang bersifat mengikat, seperti kredit pemilikan rumah atau cicilan kendaraan, biasanya disertai perjanjian ketat dan konsekuensi serius jika terjadi keterlambatan pembayaran. Risiko tersebut tidak hanya berupa denda, tetapi juga ancaman kehilangan aset.

Selain risiko finansial, tekanan psikologis juga sering muncul akibat utang jenis ini. Rasa cemas karena tenggat pembayaran atau kemungkinan penagihan dapat memengaruhi kualitas hidup. Oleh sebab itu, utang dengan risiko tinggi sebaiknya tetap diprioritaskan, meski dana darurat dibangun secara bertahap.

4. Pola pengeluaran bulanan sering luput dievaluasi

ilustrasi uang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Banyak orang merasa kesulitan menabung karena menganggap penghasilannya tidak cukup. Padahal, masalahnya sering kali terletak pada pola pengeluaran yang tidak disadari. Pengeluaran kecil yang terjadi secara rutin dapat menumpuk dan mengurangi ruang untuk menabung atau melunasi utang.

Dengan melakukan evaluasi pengeluaran bulanan, kamu bisa menemukan pos yang masih bisa ditekan. Penghematan dari langganan digital atau kebiasaan belanja impulsif dapat dialihkan menjadi dana darurat. Cara ini memungkinkan kamu tetap memenuhi kewajiban cicilan tanpa harus memilih salah satu secara ekstrem.

5. Status utang sebagai good debt atau bad debt perlu dinilai

ilustrasi utang (pixabay.com/geralt)

Tidak semua utang bersifat merugikan. Good debt umumnya digunakan untuk tujuan produktif, seperti pendidikan atau pengembangan usaha, yang berpotensi meningkatkan kapasitas finansial di masa depan. Selama cicilan dibayar tepat waktu, jenis utang ini relatif lebih aman untuk dikelola dalam jangka panjang.

Sebaliknya, bad debt berasal dari kebutuhan konsumtif yang tidak memberikan nilai tambah. Utang jenis ini cenderung menggerus keuangan karena manfaatnya bersifat sementara. Jika memiliki dana lebih, melunasi bad debt lebih cepat dapat membantu memperbaiki kondisi finansial secara keseluruhan.

6. Skor kredit berpengaruh pada akses finansial ke depan

ilustrasi credit score (freepik.com/rawpixel.com)

Skor kredit sering kali menjadi tolok ukur utama bagi lembaga keuangan dalam menilai kelayakan seseorang. Nilai ini berpengaruh besar terhadap persetujuan pinjaman dan besaran bunga yang ditawarkan. Oleh karena itu, menjaga skor kredit tetap baik merupakan investasi jangka panjang.

Untuk memperbaiki skor kredit, konsistensi membayar cicilan tepat waktu sangat diperlukan. Dalam kondisi tertentu, fokus melunasi utang bisa lebih diutamakan dibandingkan menambah dana darurat. Meski begitu, tetap penting memiliki cadangan dana minimal agar tidak terguncang saat kebutuhan mendesak muncul.

Menentukan bayar utang atau siapkan dana darurat memang membutuhkan pertimbangan matang. Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua orang karena setiap kondisi finansial memiliki tantangan berbeda. Dengan memahami situasi pribadi secara menyeluruh, keputusan keuangan bisa diambil dengan lebih bijak dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team