Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Indikator Keuangan yang Wajib Dicek sebelum Memutuskan Berutang

ilustrasi berutang
ilustrasi berutang (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya sih...
  • Arus kas bulanan yang konsisten menunjukkan kestabilan keuangan dan kemampuan untuk membayar cicilan utang dari sisa uang, bukan dari harapan akan pemasukan tambahan.
  • Rasio utang terhadap pendapatan sebaiknya tidak melebihi 30 persen agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi dan tambahan utang tidak mengganggu stabilitas finansial.
  • Dana darurat yang tersedia idealnya mencakup tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin, sehingga berutang tanpa dana darurat ibarat berjalan di atas tali tanpa jaring pengaman.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Berutang sering terlihat sebagai solusi cepat saat kebutuhan finansial terasa mendesak. Banyak orang merasa aman karena cicilan terlihat kecil dan tenor terasa panjang. Padahal, keputusan berutang tanpa perhitungan matang bisa jadi awal dari tekanan finansial yang berkepanjangan.

Sebelum mengambil komitmen finansial jangka panjang, kondisi keuangan perlu dibaca secara jujur dan rasional. Angka-angka sederhana sering memberi sinyal apakah utang masih sehat atau justru berisiko. Dengan memahami indikator keuangan utama, keputusan berutang bisa lebih terkontrol dan sadar konsekuensi. Yuk, cek satu per satu indikator pentingnya sebelum mengambil keputusan besar ini.

1. Arus kas bulanan yang konsisten

ilustrasi uang dan kalkulator
ilustrasi uang dan kalkulator (pexels.com/Karola G)

Arus kas atau cash flow adalah fondasi utama sebelum berutang. Indikator ini menunjukkan selisih antara pemasukan rutin dan pengeluaran bulanan yang bersifat wajib. Tanpa arus kas yang stabil dan positif, cicilan berpotensi menggerus kebutuhan dasar.

Arus kas yang sehat berarti masih ada ruang napas setelah semua pengeluaran terpenuhi. Jika setiap bulan sudah pas atau bahkan defisit, tambahan cicilan hanya akan memperbesar tekanan. Utang seharusnya dibayar dari sisa uang, bukan dari harapan akan pemasukan tambahan.

2. Rasio utang terhadap pendapatan

ilustrasi mengatur keuangan
ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Karola G)

Rasio utang terhadap pendapatan sering disebut debt to income ratio. Indikator ini mengukur seberapa besar total cicilan dibandingkan penghasilan bulanan. Semakin tinggi rasionya, semakin sempit ruang gerak keuangan.

Banyak perencana keuangan menyarankan rasio utang maksimal di kisaran 30 persen. Angka ini memberi batas aman agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Jika rasio sudah melewati batas tersebut, tambahan utang berisiko mengganggu stabilitas finansial.

3. Dana darurat yang tersedia

ilustrasi menabung
ilustrasi menabung (pexels.com/El Jundi)

Dana darurat adalah lapisan pengaman saat kondisi gak berjalan sesuai rencana. Kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, atau kebutuhan mendesak bisa muncul tanpa peringatan. Tanpa dana darurat, cicilan utang akan terasa jauh lebih berat.

Idealnya, dana darurat mencakup tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Dana ini sebaiknya likuid dan mudah diakses tanpa risiko besar. Berutang tanpa dana darurat ibarat berjalan di atas tali tanpa jaring pengaman.

4. Stabilitas sumber pendapatan

ilustrasi mengatur keuangan
ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Karola G)

Sumber pendapatan yang stabil memberi kepastian dalam membayar cicilan. Pendapatan tetap memudahkan perencanaan jangka panjang dan pengaturan prioritas. Sebaliknya, pendapatan fluktuatif menuntut perhitungan yang jauh lebih konservatif.

Jika penghasilan berasal dari proyek atau komisi, perlu ada margin keamanan yang lebih besar. Cicilan sebaiknya disesuaikan dengan pendapatan terendah, bukan rata-rata terbaik. Prinsip ini membantu mencegah stres finansial saat pemasukan menurun.

5. Tujuan utang yang jelas dan rasional

ilustrasi bisnis toko online
ilustrasi bisnis toko online (pexels.com/Kampus Production)

Tujuan berutang menentukan apakah utang bersifat produktif atau konsumtif. Utang produktif biasanya berkaitan dengan aset atau peningkatan kapasitas penghasilan. Sebaliknya, utang konsumtif sering hanya memberi kepuasan sesaat.

Tujuan yang jelas membantu menjaga komitmen selama masa cicilan. Saat manfaat jangka panjang terasa masuk akal, disiplin finansial lebih mudah dijaga. Utang tanpa tujuan yang kuat sering berakhir sebagai beban psikologis dan finansial.

Berutang bukan hal yang salah jika dilakukan dengan perhitungan matang. Indikator keuangan membantu melihat kondisi nyata, bukan sekadar rasa mampu. Dengan membaca angka secara jujur, keputusan finansial bisa lebih tenang dan terkendali. Keuangan yang sehat selalu dimulai dari kesadaran sebelum mengambil risiko.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Business

See More

Apple-Google Didesak untuk Hapus X dan Grok dari Toko Aplikasi

19 Jan 2026, 00:08 WIBBusiness