Ilustrasi investasi bitcoin (freepik.com)
Agar nilai bitcoin turun dari lebih dari 80.000 dolar AS per Maret 2025 menjadi nol, sejumlah pilar utamanya harus runtuh. Beberapa kemungkinan berikut bisa memicunya.
Bitcoin sudah beberapa kali menghadapi tekanan regulasi. Tiongkok, misalnya, melarang aktivitas penambangan dan transaksi kripto. Pada 2021, harga bitcoin sempat anjlok hampir 30% usai pemerintah Tiongkok menindak tegas bank yang terlibat transaksi kripto.
Jika negara-negara besar seperti Amerika Serikat atau Uni Eropa tiba-tiba memutuskan melarang kepemilikan, penggunaan, dan perdagangan bitcoin, permintaan akan anjlok drastis.
Penambangan bitcoin mengonsumsi energi sangat besar. Rata-rata, satu transaksi bitcoin setara dengan 851,77 kWh listrik — kira-kira sama dengan kebutuhan listrik rumah tangga di Amerika selama sebulan, menurut Crypto.com.
Jika harga energi melonjak atau pemerintah membatasi penambangan demi alasan lingkungan, keamanan jaringan bitcoin bisa melemah. Daya penambangan yang turun akan meningkatkan risiko serangan siber, yang pada akhirnya menurunkan kepercayaan investor.
Nilai bitcoin bertumpu pada kepercayaan publik. Berbeda dengan saham yang menghasilkan arus kas atau dividen, bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik selain keyakinan pasar. Jika muncul skandal besar atau manipulasi pasar yang memukul kepercayaan, nilainya bisa runtuh.