Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Bitcoin Ungguli Emas-Saham di Tengah Gejolak Global?

Benarkah Bitcoin Ungguli Emas-Saham di Tengah Gejolak Global?
ilustrasi cryptocurrency (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Konflik di Timur Tengah memicu tekanan besar di pasar global, membuat IHSG turun lebih dari 13 persen dan indeks S&P 500 terkoreksi sekitar 4 persen.
  • Harga emas anjlok hingga 16 persen akibat aksi jual besar-besaran, penguatan dolar AS, serta ekspektasi suku bunga tinggi yang menurunkan minat terhadap aset tanpa imbal hasil.
  • Bitcoin justru naik sekitar 12 persen dalam dua bulan terakhir, menarik perhatian investor sebagai aset alternatif di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times -Meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Pasar modal terus mengalami tekanan, baik di Tanah Air maupun dunia.

Menurut data IDX Mobile, selama satu bulan terakhir, di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, IHSG melemah hingga 1.114,24 poin atau 13,57 persen. Menuju akhir pekan ini, IHSG melemah 67,03 poin atau 0,94 persen ke level 7.097,06. Selain itu, indeks S&P 500 terkoreksi sekitar 4 persen.

1. Harga emas terkoreksi 16 persen

ilustrasi emas (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi emas (IDN Times/Aditya Pratama)

Adapun harga emas di pasar spot terkoreksi hingga 16 persen, dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar 4.400 dolar AS per troy ounce (toz).

Harga emas logam mulia Antam juga terus menunjukkan penurunan. Kemarin, Jumat (27/3/2026) turun Rp40 ribu menjadi Rp2,81 juta per gram.

Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Tekanan ini turut didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi, sehingga membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak.

Kondisi itu mendorong ekspektasi Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam kondisi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional.

2. Bitcoin melonjak 12 persen

ilustrasi cryptocurrency (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi cryptocurrency (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut data Indodax, di tengah kondisi tersebut, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir, dan diperdagangkan di kisaran 70 ribu dolar AS - 71 ribu dolar AS per Selasa (24/3).

Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Melihat data tersebut, maka informasi bahwa Bitcoin menguat di saat pasar saham dan emas melemah karena gejolak global adalah fakta.

3. Hal yang harus dilakukan saat ada dinamika global

Ilustrasi saham (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi saham (IDN Times/Arief Rahmat)

Menanggapi dinamika pasar ini, Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan kinerja kuat Bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang sudah pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina.

“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai,” ucap Antony.

Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makro ekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan.

Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More