Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Cara Menentukan Harga Jualan saat Ramadan yang Pas dan Tetap Untung
ilustrasi penjual takjil (unsplash.com/Daniel Salgado)

Intinya sih...

  • Hitung food cost secara detail untuk menentukan modal bahan per porsi dengan akurat.

  • Jangan lupakan biaya operasional dan kemasan agar harga jualmu tidak menutupi biaya di belakang.

  • Gunakan metode mark up pricing yang rasional sesuai dengan tingkat kerumitan, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan sering membuat penjual tergoda menaikkan atau menurunkan harga hanya karena suasana pasar sedang ramai. Ada yang takut kemahalan, ada juga yang khawatir kalah cepat laku, padahal dua duanya bisa berujung rugi. Harga yang terlihat aman di etalase belum tentu aman di catatan belanja.

Menentukan harga yang pas butuh perhitungan yang jelas, bukan sekadar meniru penjual sebelah. Kamu perlu tahu batas minimal agar tetap untung, lalu tahu ruang gerak supaya tetap menarik untuk pembeli. Di artikel ini, kamu akan menemukan 6 cara yang bisa kamu pakai untuk menentukan harga jualan yang pas dan tetap untung.

1. Hitung food cost secara detail

ilustrasi menghitung food cost (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Jangan mengira-ngira harga bahan per porsi, karena selisih kecil bisa jadi besar saat kamu jual banyak. Hitung semua komponen bahan, mulai dari bahan utama, bumbu, sampai minyak goreng yang sering cepat habis. Cara paling gampang, total biaya bahan kamu bagi jumlah porsi, lalu itulah modal bahan per porsi.

Supaya lebih akurat, catat berat dan jumlah yang benar benar kamu pakai, bukan yang kamu beli di pasar. Cabai, daging, dan telur sering naik cepat saat Ramadan, jadi hitungan lama bisa langsung tidak relevan. Biasakan memperbarui hitungan ketika ada kenaikan harga yang terasa signifikan, supaya margin kamu tidak menguap diam-diam.

2. Jangan lupakan biaya operasional dan kemasan

ilustrasi membuat takjil untuk jualan (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Banyak penjual rugi karena fokusnya hanya ke bahan makanan, padahal biaya kecil itu jumlahnya bisa mengejutkan. Gas, listrik, air, sampai biaya penyimpanan di kulkas bisa jadi beban rutin yang menempel di setiap porsi. Kalau kamu tidak memasukkan komponen ini, harga jualmu terlihat untung tetapi sebenarnya menutup biaya di belakang.

Kemasan juga bukan aksesori, karena plastik, cup, sendok, stiker, dan segel punya biaya nyata. Masukkan biaya kemasan ke modal per porsi agar perhitunganmu tidak bolong. Saat kamu menaikkan kualitas kemasan, kamu tidak perlu panik karena harganya sudah disiapkan dari awal.

3. Gunakan metode mark up pricing yang rasional

ilustrasi menulis harga jualan takjil (pexels.com/Kampus Production)

Metode mark up pricing membantu kamu menetapkan harga secara cepat dan terukur. Untuk makanan jadi, margin keuntungan sering dipasang sekitar 30 persen sampai 50 persen dari total modal, tergantung proses dan risiko. Kalau modal satu porsi Rp5.000, harga jual yang wajar biasanya berada di kisaran Rp7.000 sampai Rp10 ribu.

Yang sering dilupakan adalah tingkat kerumitan, waktu, dan tenaga yang kamu keluarkan. Menu yang butuh banyak langkah, butuh banyak alat, atau mudah gagal sebaiknya punya margin lebih tinggi. Kamu juga perlu mempertimbangkan produk yang cepat basi, karena risiko sisa itu sebenarnya biaya juga.

4. Riset harga kompetitor di sekitarmu

ilustrasi penjual minuman untuk takjil (unsplash.com/Siora Photography)

Harga yang pas tidak bisa dilepas dari kondisi sekitar, karena pembeli pasti membandingkan meski hanya sekilas. Lakukan survei ringan di area jualanmu, dan lihat juga harga di aplikasi pesan antar jika kamu main di sana. Dari riset itu kamu bisa tahu rentang harga yang umum, lalu menentukan posisi yang paling aman untuk kamu.

Kalau harga kamu lebih tinggi, pastikan alasannya jelas dan terasa, bukan hanya kamu yang tahu. Nilai tambah bisa datang dari porsi yang konsisten, rasa yang stabil, kemasan yang lebih rapi, atau layanan yang cepat. Dengan begitu, kamu tidak perlu menurunkan harga hanya karena takut kalah ramai.

5. Terapkan strategi harga psikologis

ilustrasi harga makanan (unsplash.com/Perry Merrity II)

Harga tertentu bisa terasa lebih ringan di mata pembeli meski selisihnya kecil. Angka Rp19.500 sering tampak lebih murah dibanding Rp20.000, padahal bedanya tidak jauh. Strategi ini cocok untuk takjil karena banyak pembeli belanja spontan saat mendekati buka.

Supaya tidak membingungkan, gunakan pola harga yang rapi dan mudah dibayar. Jika kamu jual di pinggir jalan, pastikan kembalian tetap praktis agar transaksi tidak lama. Kalau kamu jual lewat aplikasi, angka psikologis sering lebih efektif karena pembeli melihatnya sebagai pilihan yang lebih masuk akal.

6. Siapkan margin untuk promo bundling

ilustrasi penjual takjil (unsplash.com/Christian Chen)

Promo bundling disukai saat Ramadan karena pembeli merasa lebih praktis dan lebih hemat dalam satu klik. Tapi bundling yang asal bisa membuat kamu memberi diskon dari keuntungan yang sebenarnya belum aman. Karena itu, harga satuanmu perlu punya ruang margin supaya saat dipaketkan kamu tetap dapat untung.

Cara sederhana, tentukan dulu harga normal yang sehat, baru hitung paket dengan potongan kecil yang tidak mengganggu modal. Kamu juga bisa mainkan bundling lewat isi, misalnya tambah satu item kecil yang biayanya rendah tetapi terasa menarik. Dengan strategi ini, pembeli senang, kamu juga tidak tekor saat penjualan sedang ramai.

Harga yang pas bikin kamu jualan lebih tenang karena untung tiap porsi sudah jelas. Kalau hitunganmu rapi, kamu tidak gampang panik saat harga bahan naik atau pesaing ganti strategi. Coba terapkan pelan-pelan, lalu cek hasil jualan supaya hargamu makin tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team