Hakim dalam persidangan di San Francisco menemukan bukti Elon Musk sengaja memberikan informasi menyesatkan melalui dua cuitannya. Salah satu cuitan pada 13 Mei 2022 mengeklaim kesepakatan akuisisi ditangguhkan sementara karena Musk memerlukan verifikasi data akun palsu di Twitter.
Pernyataan tersebut menyebabkan harga saham Twitter merosot hampir 10 persen pada hari yang sama. Para ahli hukum menilai tindakan ini sebagai strategi komunikasi yang tidak jujur karena Musk sebenarnya telah melepaskan hak uji tuntas saat menandatangani kontrak awal yang mengikat.
Pengacara dari firma hukum Bottini & Bottini Inc., Aaron P. Arnzen memberikan kesaksian mengenai kuatnya bukti dalam proses litigasi tersebut.
"Dalam kasus ini, sangat jelas bahwa kesaksian yang dapat dipercaya dan bukti nyata yang ada sangat kuat mendukung argumen para penggugat," kata Arnzen, dilansir Daily Journal.
Pihak penggugat berhasil meyakinkan sembilan anggota hakim bahwa Musk menggunakan isu akun bot sebagai senjata untuk merusak nilai perusahaan. Musk mengeklaim akun bot mencapai 20 persen atau lebih dari basis pengguna harian demi mendapatkan posisi tawar yang lebih menguntungkan.
Fakta di persidangan mengungkap bahwa Musk tidak pernah memberi instruksi nyata kepada tim teknisnya untuk menghentikan proses akuisisi, meskipun ia terus membuat pernyataan provokatif di ruang publik. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa pernyataan tersebut hanyalah taktik untuk menurunkan harga saham secara sengaja.