Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi sukses (pexels.com/fauxels)
ilustrasi sukses (pexels.com/fauxels)

Intinya sih...

  • Smartphone flagship dengan harga terlalu mahal.

  • Mobil baru yang nilainya cepat menyusut.

  • Langganan digital yang jarang dimanfaatkan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ekonomi mengalami perubahan signifikan yang berdampak langsung pada daya beli kelas menengah. Kenaikan harga kebutuhan pokok, suku bunga kredit yang masih tinggi, serta ketidakpastian ekonomi global membuat pengelolaan keuangan pribadi menjadi semakin menantang. Situasi ini menuntut kelas menengah untuk tidak lagi mengandalkan pola konsumsi lama yang dulu dianggap aman dan wajar.

Dilansir New Trader U, banyak keputusan belanja yang selama ini identik dengan stabilitas hidup kelas menengah justru berpotensi menjadi penghambat pertumbuhan kekayaan. Barang dan layanan tertentu menyimpan biaya tersembunyi yang jarang disadari dalam jangka pendek. Berikut tujuh hal yang sebaiknya tidak dibeli lagi oleh kelas menengah jika ingin keuangan tetap sehat dan tidak mudah tergerus pengeluaran rutin.

1. Smartphone flagship dengan harga terlalu mahal

ilustrasi hp smartphone flagship (freepik.com/freepik)

Perkembangan teknologi smartphone saat ini telah mencapai titik di mana peningkatan fitur dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak lagi terasa signifikan bagi pengguna umum. Meski demikian, produsen tetap memasarkan ponsel flagship dengan harga yang terus meningkat, sering kali disertai narasi bahwa perangkat terbaru adalah kebutuhan esensial. Padahal, untuk aktivitas sehari-hari seperti bekerja, berkomunikasi, dan hiburan, perbedaan performa tersebut jarang benar-benar dimanfaatkan secara maksimal.

Bagi kelas menengah, kebiasaan mengganti smartphone mahal setiap satu atau dua tahun berpotensi menguras keuangan tanpa memberikan manfaat sepadan. Dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan, investasi, atau dana darurat justru habis untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup. Smartphone kelas menengah dengan spesifikasi yang stabil dan daya tahan baik sudah cukup untuk menunjang produktivitas tanpa membebani anggaran secara berlebihan.

2. Mobil baru yang nilainya cepat menyusut

ilustrasi mobil (pexels.com/Antoni Shkraba)

Membeli mobil baru masih sering dipersepsikan sebagai tanda keberhasilan finansial dan kemapanan hidup. Namun, dari sudut pandang ekonomi, kendaraan merupakan aset yang mengalami penyusutan nilai sangat cepat sejak pertama kali digunakan. Dalam hitungan bulan setelah keluar dari diler, harga mobil baru bisa turun drastis dan sulit kembali ke nilai awalnya.

Bagi kelas menengah, keputusan membeli mobil baru berarti mengikat dana besar pada aset yang terus kehilangan nilai. Mobil bekas berusia tiga hingga lima tahun dengan riwayat perawatan baik tetap mampu memenuhi kebutuhan mobilitas harian secara optimal. Selain itu, biaya asuransi, pajak, dan perawatan mobil bekas biasanya lebih rendah sehingga memberikan ruang finansial yang lebih sehat dalam jangka panjang.

3. Langganan digital yang jarang dimanfaatkan

ilustrasi nonton (pexels.com/cottonbro studio)

Layanan digital berbasis langganan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern kelas menengah. Biaya bulanannya terlihat kecil dan sering dianggap tidak berdampak besar terhadap keuangan. Namun, ketika jumlah langganan terus bertambah tanpa disadari, akumulasi pengeluarannya justru dapat membebani anggaran secara perlahan.

Banyak orang tetap membayar layanan streaming, aplikasi kebugaran, atau platform digital lain meski jarang digunakan. Kebocoran anggaran seperti ini sering luput dari perhatian karena nilainya tidak terasa besar dalam satu transaksi. Dengan meninjau ulang dan memilih hanya langganan yang benar-benar digunakan, kelas menengah dapat mengelola pengeluaran secara lebih efisien.

4. Fast fashion dan barang murah berkualitas rendah

ilustrasi belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Produk fast fashion dan barang murah sering menjadi pilihan karena harganya yang terjangkau dan mudah didapatkan. Namun, kualitas produk semacam ini umumnya tidak dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Akibatnya, pakaian atau barang rumah tangga cepat rusak dan harus sering diganti.

Dalam jangka panjang, kebiasaan membeli barang murah justru meningkatkan total pengeluaran. Kelas menengah perlu mulai mempertimbangkan biaya jangka panjang, bukan sekadar harga awal saat membeli. Investasi pada barang berkualitas baik memang membutuhkan dana lebih besar di awal, tetapi memberikan manfaat ekonomi dan kenyamanan yang lebih berkelanjutan.

5. Makanan siap saji dan bahan pangan instan berlebihan

ilustrasi makan (pexels.com/Ron Lach)

Kesibukan kerja dan aktivitas harian membuat makanan siap saji terasa sebagai solusi praktis bagi banyak keluarga kelas menengah. Sayangnya, produk-produk ini umumnya dijual dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan bahan segar dengan nilai gizi yang sama. Selisih harga tersebut sering kali dibayar demi kenyamanan dan kecepatan.

Jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan ini dapat menjadi sumber kebocoran anggaran yang signifikan. Selain berdampak pada kesehatan, pengeluaran untuk makanan instan juga mempersempit ruang finansial untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Perencanaan menu dan persiapan makanan sederhana di rumah dapat menjadi langkah efektif untuk menghemat pengeluaran sekaligus menjaga kualitas konsumsi.

6. Garansi tambahan yang manfaatnya terbatas

ilustrasi garansi (freepik.com/rawpixel.com)

Saat membeli barang elektronik atau peralatan rumah tangga, konsumen sering ditawari garansi tambahan dengan biaya yang cukup besar. Garansi ini kerap dipromosikan sebagai bentuk perlindungan ekstra terhadap risiko kerusakan. Namun, dalam praktiknya, sebagian besar perangkat berfungsi normal tanpa pernah memanfaatkan garansi tersebut.

Bagi kelas menengah, biaya garansi tambahan sering kali tidak sebanding dengan manfaat yang diterima. Alih-alih membayar perlindungan ekstra, dana tersebut lebih bijak disimpan sebagai dana darurat atau tabungan khusus perbaikan. Strategi ini memberikan fleksibilitas lebih besar tanpa harus bergantung pada perlindungan yang belum tentu digunakan.

7. Rumah terlalu besar yang membebani keuangan

ilustrasi rumah (pexels.com/Kindel Media)

Memiliki rumah besar masih menjadi impian banyak keluarga kelas menengah karena dianggap sebagai simbol keberhasilan hidup. Namun, membeli rumah dengan ukuran di luar kebutuhan nyata dapat menciptakan tekanan finansial jangka panjang. Cicilan besar, pajak properti, dan biaya perawatan rutin sering kali menggerus pendapatan bulanan secara konsisten.

Hunian yang lebih kecil dan sesuai kebutuhan kini dinilai sebagai pilihan yang lebih rasional. Biaya operasional yang lebih rendah memungkinkan kelas menengah untuk meningkatkan tabungan dan investasi. Dengan begitu, stabilitas finansial dapat terjaga tanpa harus terjebak dalam beban kepemilikan aset yang berlebihan.

Perubahan kondisi ekonomi menuntut kelas menengah untuk lebih bijak dalam menentukan prioritas belanja. Memahami hal yang sebaiknya tidak dibeli lagi oleh kelas menengah membantu mengarahkan keputusan finansial pada tujuan jangka panjang yang lebih sehat. Pada akhirnya, ketahanan finansial dibangun dari kesadaran memilih kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti standar gaya hidup lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team